Rektor IAITF Temui Direktur Diktis, Sampaikan Perkembangan IAITF Dumai

Jakarta – Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai, Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil, melakukan audiensi dengan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., di ruang kerja Direktur Diktis, Lantai 7 Kantor Kementerian Agama RI, Jalan Banteng Merdeka, Jakarta (24/6). Aktifitas ini memperkuat posisi IAITF sebagai kampus terdepan dipesisir Selat Melaka.

Kedatangan Rektor IAITF Dumai disambut langsung oleh Prof. Sahiron dalam suasana penuh keakraban dan semangat pengembangan pendidikan tinggi Islam. Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi IAITF Dumai untuk menyampaikan berbagai capaian, program strategis, serta arah pengembangan institusi dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam kesempatan tersebut, Rizal Akbar memaparkan perkembangan IAITF Dumai yang terus menunjukkan kemajuan, baik dalam bidang akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun internasionalisasi kampus. Salah satu program unggulan yang disampaikan adalah pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Melaka, Malaysia, yang telah dilaksanakan secara berkelanjutan sejak tahun 2017 melalui kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan dan komunitas Melayu di kawasan Selat Melaka.

Menurut Rizal, program KKN Internasional telah menjadi salah satu identitas pengabdian masyarakat IAITF yang menghubungkan mahasiswa dengan masyarakat Melayu serumpun di luar negeri. Program tersebut tidak hanya memperkuat pengalaman internasional mahasiswa, tetapi juga menjadi sarana pengembangan jejaring akademik dan budaya di kawasan Selat Melaka.

“Insya Allah, KKN Internasional IAITF akan kembali dilaksanakan pada akhir Juli mendatang. Program ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk memperkuat internasionalisasi kampus sekaligus mengembangkan kajian Peradaban Melayu Selat Melaka yang menjadi distingsi IAITF Dumai,” ujar Rizal.

Selain membahas program internasionalisasi, Rektor IAITF juga menyampaikan rencana pengembangan konsentrasi Budaya Melayu Riau sebagai bagian dari penguatan identitas akademik kampus yang berbasis Peradaban Melayu Pesisir Selat Melaka. Menurutnya, pengembangan kajian tersebut sangat relevan dengan posisi geografis Dumai sebagai salah satu pintu gerbang kawasan Melayu di pesisir timur Sumatera.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Sahiron menyambut baik berbagai langkah pengembangan yang dilakukan IAITF Dumai. Ia menilai bahwa internasionalisasi merupakan salah satu aspek penting yang harus terus diperkuat oleh perguruan tinggi keagamaan Islam agar mampu meningkatkan daya saing dan reputasi institusi di tingkat global.

“Program internasionalisasi seperti KKN Internasional perlu terus ditingkatkan dan dikembangkan karena menjadi salah satu indikator penting dalam penguatan kualitas perguruan tinggi,” ungkap Prof. Sahiron.

Terkait pengembangan konsentrasi Budaya Melayu Riau, Direktur Diktis menjelaskan bahwa penguatan kekhasan akademik tersebut dapat dilakukan secara lebih fleksibel melalui kebijakan internal perguruan tinggi.

“Pengembangan konsentrasi atau kekhasan akademik seperti Budaya Melayu Riau dapat ditetapkan melalui Surat Keputusan Rektor. Banyak perguruan tinggi yang mengembangkan konsentrasi keilmuan sesuai keunggulan daerah masing-masing. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga memiliki pengalaman yang dapat dijadikan contoh dalam pengembangan kekhasan akademik tersebut,” jelasnya.

Dalam audiensi tersebut, Rizal Akbar juga menyampaikan perkembangan proses usulan perubahan bentuk kelembagaan IAITF Dumai menjadi Universitas Islam Tafaqquh Fiddin Dumai (UITF). Transformasi kelembagaan tersebut diharapkan dapat memperluas cakupan pengembangan program studi serta memperkuat kontribusi institusi dalam pembangunan sumber daya manusia di kawasan pesisir timur Sumatera.

Menanggapi hal itu, Prof. Sahiron menjelaskan bahwa proses peningkatan status kelembagaan tersebut saat ini masih dalam tahapan pembahasan dan penelaahan di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, khususnya pada Subdirektorat Kelembagaan. “Prosesnya sedang berjalan dan saat ini berada pada tahap pembahasan di Subdirektorat Kelembagaan. Tentu seluruh proses akan mengikuti ketentuan dan mekanisme yang berlaku,” ujarnya.

Bagi IAITF Dumai, audiensi ini menjadi dorongan positif untuk terus melangkah maju sebagai perguruan tinggi Islam yang unggul, berdaya saing global, dan berbasis Peradaban Melayu Selat Melaka, sekaligus memperkuat kontribusi nyata dalam pembangunan pendidikan tinggi Islam di tingkat nasional maupun internasional.

Written by