Mengapa Guru BMR di Sekolah dan Madrasah di Riau Lahir dari Prodi Pendidikan Agama Islam

Budaya Melayu Riau merupakan identitas utama masyarakat Riau yang tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai Islam. Dalam tradisi Melayu dikenal falsafah “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah”, yang menunjukkan bahwa adat, budaya, etika, dan kehidupan sosial masyarakat Melayu dibangun di atas dasar ajaran Islam. Karena itu, pembelajaran Budaya Melayu Riau di sekolah dan madrasah tidak cukup hanya dipahami sebagai pelajaran budaya, bahasa, pantun, atau adat istiadat semata, tetapi harus dilihat sebagai pendidikan nilai, karakter, sejarah, dan peradaban Islam-Melayu.

Atas dasar inilah, guru Budaya Melayu Riau sangat tepat lahir dari Program Studi Pendidikan Agama Islam. Prodi PAI memiliki fondasi keilmuan yang kuat dalam bidang Al-Qur’an, Hadis, akidah, akhlak, fikih, sejarah peradaban Islam, pendidikan Islam, pedagogik, serta pembentukan karakter peserta didik. Keilmuan tersebut sangat relevan dengan substansi Budaya Melayu Riau yang berakar pada nilai religius, adab, sopan santun, musyawarah, tanggung jawab sosial, dan moderasi beragama.

Selama ini, mata pelajaran Budaya Melayu Riau telah menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan daerah di Riau. Namun, salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah belum tersedianya tenaga pendidik BMR yang benar-benar memiliki latar belakang akademik yang linier dan kompetensi khusus dalam bidang budaya Melayu Riau. Banyak guru BMR berasal dari berbagai disiplin ilmu lain, sehingga pembelajaran BMR sering kali belum mampu menjangkau dimensi yang lebih luas, seperti sejarah Melayu, tamadun Melayu, Arab Melayu, manuskrip Melayu, sastra Melayu, adat istiadat, filosofi hidup Melayu, dan hubungan mendalam antara Islam dan budaya Melayu.

Program Studi Pendidikan Agama Islam IAITF Dumai menjawab kebutuhan tersebut melalui pengembangan Konsentrasi Pendidikan Agama Islam Budaya Melayu Riau atau PAI-BMR. Konsentrasi ini tidak mengubah identitas utama Prodi PAI, tetapi memperkuat kompetensi lulusan agar mampu menjadi pendidik PAI sekaligus tenaga pendidik Budaya Melayu Riau. Dengan demikian, lulusan PAI-BMR memiliki kompetensi ganda: memahami pendidikan Islam secara mendalam dan mampu mengintegrasikannya dengan budaya Melayu Riau dalam proses pembelajaran di sekolah dan madrasah.

Guru BMR yang lahir dari Prodi PAI memiliki keunggulan karena mampu menempatkan budaya Melayu sebagai bagian dari pendidikan karakter Islami. Nilai-nilai seperti amanah, santun, hormat kepada guru dan orang tua, bermusyawarah, cinta tanah air, serta tanggung jawab sosial bukan hanya diajarkan sebagai norma budaya, tetapi juga sebagai bagian dari akhlak Islam. Dengan pendekatan ini, pembelajaran BMR menjadi lebih bermakna karena tidak sekadar mengenalkan warisan budaya, tetapi juga membentuk kepribadian peserta didik.

Selain itu, Prodi PAI memiliki basis pedagogik yang kuat. Seorang guru BMR tidak cukup hanya mengetahui budaya Melayu, tetapi juga harus mampu merancang pembelajaran, menyusun perangkat ajar, menggunakan media pembelajaran, melakukan evaluasi, serta menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakter peserta didik. Kompetensi pedagogik inilah yang menjadi kekuatan utama lulusan Prodi PAI dalam mengajarkan BMR secara profesional dan sistematis.

Konsentrasi PAI-BMR juga membekali mahasiswa dengan kajian khas seperti Budaya Melayu Riau, Peradaban Melayu Pesisir Selat Melaka, Arab Melayu Gundul, Manuskrip Melayu, Sejarah Riau dan Pesisir Timur Sumatera, Pantun, Syair, Gurindam Melayu, serta Digitalisasi Manuskrip Melayu. Mata kuliah tersebut memperkaya keilmuan mahasiswa agar tidak hanya menjadi guru yang mengajar di kelas, tetapi juga menjadi pelestari, peneliti, dan pengembang bahan ajar budaya Melayu.

Kehadiran guru BMR dari Prodi PAI juga penting karena sekolah dan madrasah membutuhkan pendidik yang mampu menghubungkan kurikulum lokal dengan visi pendidikan Islam yang lebih luas. Di madrasah, integrasi ini menjadi semakin strategis karena peserta didik tidak hanya belajar agama sebagai mata pelajaran, tetapi juga belajar bagaimana nilai agama hidup dalam budaya masyarakatnya. BMR menjadi jembatan antara ajaran Islam, identitas Melayu, dan kehidupan sosial peserta didik.

Dalam konteks Riau sebagai bagian dari kawasan Pesisir Selat Melaka, guru BMR memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan peradaban. Selat Melaka sejak dahulu menjadi jalur perdagangan, dakwah Islam, pertukaran budaya, dan perkembangan intelektual Melayu. Oleh karena itu, guru BMR harus mampu memperkenalkan kepada peserta didik bahwa budaya Melayu bukan sekadar warisan lokal, tetapi bagian dari sejarah besar peradaban Islam di Nusantara dan Asia Tenggara.

IAITF Dumai melalui Prodi PAI-BMR menempatkan pendidikan sebagai sarana pelestarian budaya sekaligus inovasi peradaban. Lulusan tidak hanya diarahkan menjadi guru, tetapi juga asisten peneliti dan pengembang bahan ajar yang mampu menyusun modul, media digital, arsip budaya, dan konten edukatif Melayu-Islam. Dengan demikian, guru BMR masa depan tidak hanya berdiri di depan kelas, tetapi juga berperan dalam digitalisasi warisan budaya Melayu.

Alasan lain mengapa guru BMR tepat lahir dari Prodi PAI adalah karena budaya Melayu Riau memiliki watak religius yang kuat. Tanpa pemahaman Islam yang baik, pembelajaran BMR berisiko kehilangan ruh utamanya. Sebaliknya, jika diajarkan oleh pendidik yang memiliki dasar Pendidikan Agama Islam, BMR dapat dipahami secara lebih utuh sebagai perpaduan antara adat, syarak, sejarah, bahasa, sastra, akhlak, dan peradaban.

Dengan demikian, pengembangan guru BMR melalui Prodi Pendidikan Agama Islam bukan hanya pilihan akademik, tetapi kebutuhan strategis bagi Riau. Langkah ini menjawab persoalan kekurangan guru BMR yang linier, memperkuat identitas Melayu-Islam, mendukung pelestarian budaya daerah, dan sekaligus membangun generasi muda yang berkarakter, beradab, dan memahami akar peradabannya.

Dengan demikian, guru BMR yang lahir dari Prodi Pendidikan Agama Islam adalah jawaban atas kebutuhan zaman. Ia bukan sekadar pengajar budaya, melainkan pendidik peradaban. Ia mengajarkan pantun, tetapi juga adab. Ia mengenalkan adat, tetapi juga syarak. Ia membaca sejarah Melayu, tetapi juga menanamkan nilai Islam. Dari sinilah IAITF Dumai mengambil peran penting: melahirkan guru-guru BMR yang profesional, religius, berbudaya, dan siap menjaga marwah Melayu Riau di sekolah, madrasah, dan masyarakat.

Esai ditulis Oleh : Dr. Deni Surianto (Dekan Fakultas Tarbiyah IAITF Dumai)

Written by