Iaitfdumai.ac.id – SIAK β Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai kembali memperkuat perannya dalam pengembangan khazanah keilmuan Islam dan budaya Melayu melalui Seminar Internasional Budaya Melayu Pesisir Selat Melaka bertajuk βBΔb al-QawΔ’id dan Kesultanan Islam Nusantaraβ, yang diselenggarakan secara hybrid pada Rabu, 12 Agustus 2026, di Ruang Raja Indra Pahlawan Lantai 2, Kantor Bupati Siak.








Kegiatan ini mempertemukan akademisi, pemerintah daerah, tokoh adat, ulama, mahasiswa, serta mitra perguruan tinggi dari Indonesia dan Malaysia. Seminar diselenggarakan IAITF Dumai melalui kolaborasi bersama Perhimpunan Ilmuan Pesisir Selat Melaka (PIPSM), LAMR Kabupaten Siak, Pemerintah Kabupaten Siak, Universiti Teknologi MARA (UiTM), DMDI International College Malaysia, serta STAI Sulthan Syarif Hasyim Siak.
Antusiasme peserta terlihat baik secara luring maupun daring. Ruang seminar dipenuhi mahasiswa KKN IAITF Dumai dan mahasiswa STAI Sulthan Syarif Hasyim Siak bersama para tamu undangan, sementara partisipasi melalui Zoom Meeting mencapai 444 peserta dari berbagai kalangan.
Seminar diawali dengan penyambutan Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, S.A.P., M.Si., yang hadir bersama Wakil Bupati Siak, Syamsurizal, S.Ag., M.Si. Dalam pengantarnya, Bupati Siak memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan seminar yang mengangkat budaya Melayu Pesisir Selat Melaka sekaligus membuka ruang kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi.




Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Kabupaten Siak, serta doa yang dipimpin oleh Dr. Deni Suryanto, M.Pd.
Salah satu agenda utama seminar adalah penyampaian keynote speaker oleh Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Rizal Akbar, S.Si., M.Phil., Rektor IAITF Dumai sekaligus Sekretaris Jenderal PIPSM.
Kehadiran Rektor IAITF Dumai sebagai keynote speaker menegaskan posisi IAITF Dumai dalam membangun agenda akademik yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada penguatan identitas Islam dan Melayu di kawasan Pesisir Selat Melaka.
Dalam forum tersebut, Rektor menempatkan khazanah Islam Pesisir Selat Melaka sebagai ruang keilmuan yang perlu terus dikaji, didokumentasikan, dan dikembangkan melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan lembaga kebudayaan.
Seminar ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring akademik IAITF Dumai dengan berbagai institusi di kawasan Selat Melaka. Bagi IAITF Dumai, penguatan jejaring tersebut menjadi penting karena kawasan Pesisir Selat Melaka memiliki sejarah panjang sebagai ruang perjumpaan Islam, perdagangan, pendidikan, kebudayaan, dan perkembangan kesultanan Islam Nusantara.
Selain Rektor IAITF Dumai, keynote speaker lainnya adalah Prof. Dr. S. Salahuddin Suyurno, Presiden PIPSM. Kehadiran kedua tokoh tersebut memperkuat perspektif seminar dalam melihat budaya Melayu dan sejarah Islam Nusantara sebagai bagian dari khazanah keilmuan yang memiliki relevansi lintas wilayah.
Diskusi seminar juga menghadirkan sejumlah narasumber dari Indonesia dan Malaysia. Dari Pascasarjana IAITF Dumai hadir Ustaz Ahmad Syarifuddin, S.H.; dari DMDI International College Malaysia hadir Prof. Dr. Hj. R.A. Huzaifah Dato’ Hasim, S.E.; dari Universiti Teknologi MARA Cawangan Johor hadir Dr. Azizur Rahman Ramli.
Sementara itu, perspektif kelembagaan dan kebudayaan Melayu Indonesia disampaikan oleh Datuk Seri Drs. H. Arfan Usman, M.Pd., Ketua DPH LAMR Kabupaten Siak, serta Dr. M. Hatta, M.Pd., Ketua STAI Sulthan Syarif Hasyim Siak.
Rangkaian pemaparan kemudian dilanjutkan melalui sesi focus group discussion yang dipandu oleh Dr. Dawami, S.Sos., M.I.Kom. selaku moderator. Diskusi berlangsung interaktif dengan menghubungkan persoalan budaya Melayu, sejarah kesultanan Islam, serta keberlanjutan khazanah intelektual Islam di kawasan Pesisir Selat Melaka.
Salah satu agenda strategis dalam kegiatan tersebut adalah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara IAITF Dumai dan LAMR Kabupaten Siak. Penandatanganan ini menjadi bagian penting dari seminar karena menunjukkan bahwa kegiatan akademik tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi diarahkan pada kerja sama kelembagaan yang berkelanjutan.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka ruang lebih luas bagi penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dokumentasi budaya, pengembangan khazanah Islam Melayu, serta berbagai kegiatan akademik lainnya yang berkaitan dengan Pesisir Selat Melaka.
Bagi IAITF Dumai, kerja sama dengan LAMR Kabupaten Siak juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat identitas institusi sebagai perguruan tinggi Islam yang memiliki perhatian terhadap sejarah, budaya, dan khazanah intelektual masyarakat Melayu.
Seminar tidak hanya melibatkan pimpinan dan akademisi, tetapi juga mahasiswa, khususnya mahasiswa KKN IAITF Dumai dan mahasiswa STAI Sulthan Syarif Hasyim Siak. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dari proses pembelajaran kontekstual karena mereka mendapatkan kesempatan menyaksikan secara langsung forum akademik yang mempertemukan pemerintah, akademisi, tokoh adat, dan masyarakat.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan sertifikat kepada perwakilan mahasiswa KKN, yaitu Ulya Mahmud Nasution dari IAITF Dumai, Intan Meisari dari STAI Sulthan Syarif Hasyim Siak, dan Wimba Damar Sasi dari Universitas Abdurrab Pekanbaru.
Kehadiran ratusan peserta secara daring sekaligus menunjukkan bahwa isu budaya Melayu Pesisir Selat Melaka memiliki daya tarik akademik yang melampaui batas geografis. Seminar ini menjadi ruang diseminasi pengetahuan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap hasil pemikiran akademik mengenai Islam, Melayu, kesultanan, dan sejarah Nusantara.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Hj. Lestary Fitriany, M.E., Ketua Sistem Pengawasan Internal IAITF Dumai; Dr. Dawami, S.Sos., M.I.Kom., Ketua LPM IAITF Dumai; Muhammad Farid Firdaus, M.H., Ketua LP2M IAITF Dumai; Tengku Mahesa Khalid, M.M.; Dr. Faisal Nurmatias, M.E.; Khairul Azmi, M.E.; Dr. Wiwid Hadi Sumitro; Dr. Neneng Desi Susanti, S.H.I., M.Sy.; serta tenaga kependidikan IAITF Dumai Nini Nursima, Meldian, Shazrima, dan Nur Hafizah, bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Siak, staf ahli Bupati, kepala OPD atau yang mewakili, tokoh masyarakat, sivitas akademika, dan para peserta seminar.
Kegiatan juga diikuti oleh Ketua DPH dan MKA LAMR Kabupaten Meranti beserta rombongan yang mengikuti seminar dari Balai Adat LAMR Kabupaten Meranti.
Seminar Internasional Budaya Melayu Pesisir Selat Melaka menjadi salah satu bentuk nyata penguatan visi akademik IAITF Dumai dalam mengembangkan kajian Islam dan budaya Melayu kawasan Pesisir Selat Melaka.
Melalui kegiatan semacam ini, IAITF Dumai tidak hanya membangun jejaring dengan perguruan tinggi dan lembaga di Malaysia, tetapi juga memperkuat hubungan akademik dengan pemerintah daerah, lembaga adat, perguruan tinggi, serta komunitas intelektual di berbagai wilayah Indonesia.
Dari perspektif pengembangan mutu perguruan tinggi, kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan implementasi tridarma perguruan tinggi, internasionalisasi, kolaborasi kelembagaan, publikasi dan diseminasi keilmuan, penguatan jejaring, serta keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan akademik. Hal ini menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem akademik IAITF Dumai yang semakin terbuka, kolaboratif, dan berorientasi pada penguatan mutu institusi.
Seminar ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para narasumber, penyerahan cenderamata, serta foto bersama IAITF Dumai dan LAMR Kabupaten Siak.
Melalui seminar ini, IAITF Dumai menegaskan bahwa Pesisir Selat Melaka bukan sekadar ruang geografis, tetapi merupakan ruang peradaban yang menyimpan khazanah Islam, budaya Melayu, sejarah kesultanan, dan jaringan intelektual yang perlu terus dikaji dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Nini Nursima
