IAITF Dumai Satukan Stakeholder Kota, Bangun Sinergi Tuan Rumah International Conference PIPSM 2026

Iaitfdumai.ac.id – DUMAI – Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai mempertemukan unsur pemerintah, pendidikan, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, lembaga adat, pariwisata, dunia usaha, komunitas, serta internal perguruan tinggi dalam Focus Group Discussion (FGD) Persiapan dan Sinergi Pelaksanaan International Conference PIPSM & Anugerah Ilmuwan Pesisir Selat Melaka 2026, Rabu, 30 September 2026, di Lantai II Tafidu Building IAITF Dumai. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk menyatukan dukungan sekaligus memetakan kontribusi stakeholder dalam menyambut agenda ilmiah internasional di Kota Dumai.

FGD dilaksanakan setelah Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM) secara resmi menunjuk IAITF Dumai sebagai Host Institution dan Main Venue International Conference PIPSM & Malacca Strait Scholars Award 2026. Penunjukan itu disampaikan melalui surat Presiden PIPSM, Prof. Dr. S. Salahuddin Suyurno, kepada Rektor IAITF Dumai, Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si., M.Phil. Konferensi utama dijadwalkan berlangsung pada 12 November 2026 di IAITF Dumai dengan tema β€œThe Malacca Strait as an Axis of Civilization: History, Manuscripts, Knowledge and Sustainable Development.” surat Penunjukan tuan rumah

Sebagai tindak lanjut atas penunjukan tersebut, IAITF Dumai mengundang stakeholder untuk terlibat sejak tahap persiapan. Rangkaian kegiatan direncanakan berlangsung pada 11–14 November 2026 di Dumai, XIII Koto Kampar, dan Pekanbaru serta melibatkan akademisi, peneliti, ilmuwan, budayawan, lembaga adat, pemerintah daerah, dan peserta dari Indonesia, Malaysia, serta negara lainnya. FGD secara khusus diarahkan agar persiapan berlangsung terkoordinasi dan kegiatan memberikan dampak terhadap pengembangan riset serta pembangunan Kota Dumai. Undangan FGD NU Kota Dumai

Rektor IAITF Dumai, Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si., M.Phil., mengajak peserta melihat konferensi tersebut bukan hanya sebagai agenda PIPSM atau IAITF Dumai, tetapi sebagai peluang bersama untuk memperkuat posisi Dumai di kawasan Selat Melaka. Dalam diskusi berkembang gagasan agar Dumai memiliki semakin banyak alasan untuk dikunjungi, dipelajari, dan menjadi lokasi kajian bagi akademisi maupun masyarakat dari luar daerah dan luar negeri.

Rizal Akbar menjelaskan bahwa PIPSM pada awal perkembangannya tumbuh sebagai forum akademik yang mempertemukan para ilmuwan dan pemerhati kawasan Pesisir Selat Melaka. Dari perjalanan tersebut berkembang gagasan menjadikan kawasan ini sebagai ruang kolaborasi yang menghubungkan ilmu pengetahuan, sejarah, kebudayaan, pendidikan, masyarakat, dan pembangunan. Karena itu, penyelenggaraan konferensi di Dumai diharapkan dapat mendorong kota ini berkembang sebagai salah satu simpul atau hub dalam jejaring Selat Melaka.

Melaka menjadi salah satu perbandingan yang dibicarakan dalam forum. Kawasan tersebut memiliki beragam alasan yang membuat masyarakat datang, mulai dari warisan sejarah dan religi hingga layanan lainnya. Dumai, dengan posisi strategisnya di Selat Melaka, dinilai perlu mengembangkan kekuatan dan identitasnya sendiri sehingga keberadaan kota tidak hanya dipandang sebagai tempat persinggahan, tetapi juga sebagai ruang yang menarik untuk pendidikan, penelitian, sejarah, kebudayaan, pariwisata, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Diskusi turut menyentuh pentingnya membaca kembali sejarah Melayu secara lebih mendalam. Peserta didorong untuk tidak berhenti pada narasi sejarah yang diwariskan melalui tulisan kolonial, tetapi memperluas pembacaan terhadap sumber, tokoh, manuskrip, tradisi, dan perspektif masyarakat kawasan sendiri. Gagasan tersebut sejalan dengan tema konferensi yang menempatkan sejarah, manuskrip, pengetahuan, dan pembangunan berkelanjutan dalam pembacaan Selat Melaka sebagai poros peradaban.

Sejumlah stakeholder kemudian menyampaikan bentuk dukungan yang dapat diberikan. Kyai Anshori dari Nahdlatul Ulama (NU) menekankan pentingnya menciptakan kondisi Dumai yang nyaman, aman, damai, dan memberikan rasa terlindungi bagi para tamu. NU juga menyatakan kesiapan ikut berkontribusi dalam kebutuhan kegiatan, termasuk dukungan pada bagian acara seperti pembawa acara dan pembacaan Al-Qur’an.

Dari unsur pendidikan, Saipatin Saribah dari MKKS SMP menyampaikan gagasan agar delegasi memperoleh kesempatan berinteraksi dengan lingkungan sekolah. Kunjungan semacam itu dapat membuka ruang perjumpaan antara tamu konferensi dengan dunia pendidikan di Kota Dumai. Sementara itu, Arni Ramaliy dari Dinas Pendidikan menyampaikan dukungan yang dapat diarahkan pada kebutuhan transportasi kegiatan. Keterlibatan sektor pendidikan memperluas manfaat konferensi agar tidak berhenti pada forum akademik di kampus.

Dari sektor pariwisata, Riswan dari Dinas Pariwisata bersama unsur terkait membicarakan dukungan terhadap penyambutan delegasi dan pengenalan Kota Dumai. Rico Candria dari mengatakanpihaknya membuka ruang keterlibatan generasi muda, Bujang Dara Kota Dumai dalam menyambut tamu, termasuk penyambutan dengan nuansa budaya serta pengenalan destinasi yang dapat dikunjungi selama delegasi berada di Dumai. Kehadiran unsur pariwisata menjadi penting agar tamu konferensi tidak hanya mengikuti agenda ilmiah, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenal kota dan masyarakatnya.

Dari unsur adat, Datuk Januar dari Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dalam mendukung rangkaian kegiatan. Keterlibatan lembaga adat memiliki relevansi tersendiri mengingat konferensi mengangkat Selat Melaka sebagai ruang sejarah dan peradaban, sehingga perspektif dan khazanah Melayu menjadi bagian penting dalam pertemuan tersebut.

Dukungan juga datang dari dunia usaha dan organisasi perempuan. Julia Sihada, S.Pd. dari DPC IWAPI menyampaikan kesiapan untuk berkolaborasi, termasuk melalui keterlibatan pelaku UMKM. Potensi menghadirkan bazar dalam rangkaian kegiatan turut dibicarakan agar konferensi memberi ruang kepada produk dan pelaku usaha lokal. Dukungan lain berupa kesiapan membantu kebutuhan armada juga muncul dalam FGD sebagai bagian dari gotong royong stakeholder menyambut delegasi.

Brinda mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah kegiatan sangat bergantung pada kualitas persiapan. Masukan tersebut memperkuat pandangan forum bahwa konferensi internasional membutuhkan koordinasi yang matang, mulai dari agenda akademik, penyambutan delegasi, keamanan dan kenyamanan, transportasi, kunjungan, pengenalan kota, hingga keterlibatan masyarakat dan UMKM.

FGD juga dihadiri jajaran pimpinan dan pengelola IAITF Dumai. Selain Rektor, hadir Dr. Hj. Lestary Fitriany, M.E. selaku Ketua Satuan Pengawasan Internal (SPI); Dr. (Can.) Dawami, M.I.Kom, Dr. Deni Suryanto, M.Pd.; Dr. Wiwid Hadi Sumitro, M.Pd.; Dr. Susiana, M.A.; Dr. Neneng Desi Susanti, M.Sy.; Tuti Syafrianti, M.Pd.; Eka Sukmawati, M.Ag.; Khairul Azmi, M.E.; Tengku Mahesa Khalid, M.M.; Robiatul Adawiyah, M.E.; Indah Zalina, M.E.; serta jajaran tenaga kependidikan IAITF Dumai. Kehadiran lintas unit tersebut menunjukkan bahwa persiapan tuan rumah juga melibatkan unsur akademik, tata kelola, pelayanan, dan pendukung institusi secara bersama.

Kehadiran stakeholder memperlihatkan keterlibatan yang cukup luas, mulai dari Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata, MKKS SMP, Nahdlatul Ulama, LAMR, Bujang Dara, IWAPI, unsur organisasi dan komunitas lainnya, hingga pimpinan serta tenaga kependidikan IAITF Dumai. Komposisi tersebut menjadi modal awal untuk membangun pola kerja kolaboratif dalam persiapan konferensi.

Bagi IAITF Dumai, penunjukan sebagai tuan rumah tidak hanya berarti menyediakan tempat pelaksanaan konferensi. Perguruan tinggi mengambil peran sebagai penghubung antara agenda ilmiah PIPSM dengan stakeholder daerah sehingga pertemuan internasional tersebut dapat bersinggungan dengan pendidikan, penelitian, kebudayaan Melayu, pariwisata, pengembangan UMKM, jejaring kelembagaan, dan pembangunan Kota Dumai. Pendekatan tersebut sesuai dengan tujuan FGD untuk mempersiapkan kegiatan secara terarah dan terkoordinasi serta memberi dampak bagi pengembangan riset dan kota. Undangan FGD NU Kota Dumai

FGD akhirnya menghasilkan satu semangat bersama: International Conference PIPSM & Anugerah Ilmuwan Pesisir Selat Melaka 2026 tidak diletakkan sebagai acara IAITF Dumai semata, melainkan sebagai ruang kolaborasi kota. Dukungan yang muncul dari pemerintah, pendidikan, lembaga adat, organisasi keagamaan, dunia usaha, pariwisata, komunitas, dan perguruan tinggi menjadi langkah awal untuk menyambut delegasi sekaligus memperkenalkan Dumai sebagai salah satu pintu penting Indonesia di kawasan Selat Melaka.

Dengan sinergi tersebut, IAITF Dumai berharap konferensi dapat meninggalkan manfaat yang melampaui penyelenggaraan acara: memperluas jejaring ilmiah, membuka ruang kajian tentang Dumai dan Pesisir Selat Melaka, menggerakkan keterlibatan masyarakat, serta mendorong kota untuk terus berbenah dengan melihat Selat Melaka sebagai salah satu ruang strategis bagi masa depan Dumai.

Penulis: Nini Nursima, M.Pd.
Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam, IAITF Dumai

Written by