PBAK 2026 IAITF Dumai Perkuat Budaya Akademik Mahasiswa Berbasis Adab Melayu, Nalar Islami, dan Kecakapan AI

Iaitfdumai.ac.id – DUMAI – Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai menyelenggarakan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Tahun 2026 pada 24–26 September 2026 di Kampus IAITF Dumai. Kegiatan bagi mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 ini menjadi tahap awal pengenalan kehidupan perguruan tinggi sekaligus penguatan budaya akademik, karakter, nilai keislaman dan kemelayuan, serta kesiapan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi. PBAK tahun ini mengusung tema β€œAdab Melayu, Nalar Islami, Cakap AI” dengan slogan β€œJaga Adab, Tajamkan Nalar, Kuasai Zaman!” RUNDOWN PBAK 2026 (2)

Pembukaan resmi PBAK dilaksanakan pada Jumat, 25 September 2026, di Aula IAITF Dumai dan dibuka langsung oleh Rektor IAITF Dumai, Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si., M.Phil. Kegiatan dihadiri unsur pimpinan institut dan fakultas, pengelola lembaga, civitas akademika, panitia, serta mahasiswa baru. Rangkaian pembukaan meliputi menyanyikan Indonesia Raya yang di pimpin oleh Virny Novita, melantunkan Shalawat Thibbil Qulub, pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Hidayatunnisa Sulaiman, doa oleh Muhammad Zubair, sambutan Ketua Panitia PBAK Syaiful Zaman, serta sambutan dan arahan Rektor yang dipandu oleh MC, Nurmawaddah dan Nurul Asikin.

Dalam arahannya, Muhammad Rizal Akbar mengajak mahasiswa baru memulai perjalanan di perguruan tinggi dengan satu pertanyaan mendasar, β€œMengapa harus kuliah?” Ia menjelaskan bahwa pendidikan tinggi tidak semestinya dipahami sebatas jalan memperoleh gelar. Salah satu keistimewaan manusia terletak pada akal, sehingga proses pendidikan harus menjadi ruang untuk mengasah akal melalui pengetahuan dan membentuk cara berpikir yang semakin matang.

Rektor kemudian menyampaikan tiga alasan penting menempuh pendidikan tinggi, yakni mengembangkan akal, membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhan diri, dan mempersiapkan masa depan. Kampus, menurutnya, merupakan lingkungan strategis tempat mahasiswa memperoleh pengetahuan, bertemu dengan berbagai informasi dan gagasan, membangun relasi, serta membentuk paradigma yang akan memengaruhi pilihan dan perjalanan mereka pada masa mendatang.

Pesan tersebut selaras dengan tema PBAK 2026 yang mempertemukan tiga unsur penting dalam pembentukan mahasiswa IAITF Dumai. Adab Melayu menjadi pijakan dalam sikap dan kehidupan sosial, nalar Islami menjadi landasan dalam memahami ilmu dan realitas, sedangkan kecakapan AI menggambarkan kebutuhan mahasiswa untuk mampu beradaptasi secara bijak dengan perkembangan teknologi. Ketiganya diperkenalkan bukan sebagai unsur yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bekal mahasiswa dalam menjalani proses akademik dan kehidupan bermasyarakat.

Pengenalan budaya akademik juga dilakukan melalui keterlibatan unsur pimpinan dan pengelola lembaga di lingkungan IAITF Dumai. Rangkaian materi menghadirkan Direktur Pascasarjana PAI, Dekan Fakultas Tarbiyah, Dekan Fakultas Syariah, Dekan Fakultas Ekonomi Islam, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), serta Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M). Melalui sesi tersebut, mahasiswa baru diperkenalkan secara bertahap pada lingkungan akademik, fakultas, penjaminan mutu, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai aspek kehidupan perguruan tinggi.

Wawasan mahasiswa diperluas melalui keterlibatan sejumlah pemateri dari luar kampus. PBAK menghadirkan Dr. Endi, Sp.KJ. dari Awal Bros, Rino Handoyo, S.H. dari Polsek Dumai Timur, Miwardi dari BNN, serta Datok Norzam, S.Sos. dari LAM. Kehadiran pemateri eksternal memberi ruang bagi mahasiswa baru untuk memperoleh perspektif mengenai berbagai persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan generasi muda dan kehidupan sosial di luar lingkungan kampus. Agenda PBAK memang menempatkan materi dari Awal Bros, pemangku adat, Polsek Dumai Timur, dan BNN sebagai bagian dari rangkaian pembekalan mahasiswa baru.

PBAK juga menjadi ruang awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal organisasi kemahasiswaan, kepemimpinan, minat dan bakat, serta berbagai ruang pengembangan diri yang dapat diikuti selama menempuh pendidikan di IAITF Dumai. Pengenalan tersebut melibatkan Zahara Amiza dari DEMA, Muhammad Zuhri dari Pramuka, Debi Kartika dari Tari, Nabilah Firza dari Literasi, Syahrul dari Menwa, Syaiful Zaman dan Tyfanny Dewi Mulya dari Bujang Dara Dumai, serta Supriyadi dari PMII. Melalui sesi ini, mahasiswa baru diperkenalkan pada beragam pilihan aktivitas di luar perkuliahan yang dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kepemimpinan, kemampuan berorganisasi, kreativitas, literasi, minat dan bakat, sekaligus membangun jejaring dan pengalaman sosial selama menjadi mahasiswa IAITF Dumai.

Nuansa keislaman dan kemelayuan turut menjadi bagian dari keseharian selama PBAK. Rangkaian kegiatan mencakup istighasah, shalat berjamaah, ziarah ke makam almarhum Rektor IAITF Dumai, pembiasaan senyum, sapa dan salam, serta penggunaan pakaian Melayu pada hari kedua. Mahasiswa baru juga mengikuti kegiatan debat, pengenalan teman seangkatan, olahraga, gotong royong, permainan kelompok, hingga berbagai aktivitas kebersamaan yang dirancang untuk membangun interaksi antarmahasiswa.

Pelaksanaan PBAK 2026 didukung oleh 23 mahasiswa yang tercantum dalam kepanitiaan berdasarkan SK, sementara secara keseluruhan sekitar 28 mahasiswa turut membantu pelaksanaan kegiatan. Keterlibatan mahasiswa senior menjadi bagian penting dalam mendampingi mahasiswa baru, termasuk melalui sistem kakak asuh, pengelolaan forum, pendampingan kelompok, serta berbagai kegiatan yang mendorong kedisiplinan, komunikasi, dan kebersamaan.

Selama tiga hari, PBAK dirancang tidak hanya berisi penyampaian materi. Mahasiswa mengikuti aktivitas akademik dan partisipatif seperti debat dan Quizizz, serta kegiatan kelompok dan gotong royong sebelum rangkaian PBAK ditutup pada hari ketiga. Pola kegiatan tersebut memberi ruang bagi mahasiswa baru untuk mulai berinteraksi, mengenal lingkungan kampus, dan membangun kebersamaan sebagai satu angkatan.

Melalui PBAK 2026, IAITF Dumai menempatkan proses pengenalan mahasiswa baru sebagai bagian awal dari pembentukan budaya akademik dan kehidupan kemahasiswaan. Mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada struktur dan lingkungan perguruan tinggi, tetapi juga diarahkan untuk memahami bahwa perjalanan akademik membutuhkan adab sebagai landasan sikap, nalar sebagai perangkat memahami ilmu, serta kecakapan teknologi sebagai bekal menghadapi perubahan zaman. Nilai-nilai tersebut selanjutnya diharapkan tumbuh melalui proses pendidikan, organisasi, pengabdian, dan kehidupan akademik mahasiswa selama menempuh pendidikan di IAITF Dumai.

Penulis: Nini Nursima, M.Pd.
Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam, IAITF Dumai
Dokumentasi: Shazrima, S.Pd.

Written by