Iaitfdumai.ac.id – DUMAI – Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai kembali menunjukkan komitmennya dalam pelestarian dan pengembangan Budaya Melayu Riau melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) Bersama Stakeholders Budaya Melayu Riau, Kamis (2/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan IAITF Dumai ini menjadi forum strategis yang mempertemukan unsur pemerintah daerah, akademisi, tokoh adat, guru Budaya Melayu Riau (BMR), praktisi pendidikan, serta berbagai pemangku kepentingan untuk menyusun langkah nyata dalam memperkuat identitas Melayu di Kota Dumai. Kegiatan ini memperkuat peran IAITF sebagai kampus terdepan dipesisir Selat Melaka.




FGD dipandu oleh Dr. Cand. Dawami, S.Sos., M.I.Kom. selaku moderator dan diawali dengan sambutan Rektor IAITF Dumai, Assoc. Prof. Dr. M. H. Rizal Akbar, M.Phil. Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kota Dumai yang diwakili oleh Bapak Yunus menyampaikan bahwa pemerintah telah berupaya mengimplementasikan identitas Melayu dalam berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan, di antaranya penggunaan bahasa Melayu pada surat-menyurat resmi, penerapan ornamen selembayung pada bangunan pemerintahan, serta penyajian Tari Persembahan dan berbagai unsur kesenian Melayu dalam kegiatan resmi pemerintah. Meski demikian, masih terdapat sejumlah aspek budaya yang perlu terus dikembangkan, seperti penguatan kuliner khas Melayu, souvenir berciri lokal, karya seni, serta pembudayaan adab Melayu dalam kehidupan masyarakat.




Mengawali sesi pemaparan utama, Prof. Dr. Noriah Mohamed, akademisi terkemuka dalam bidang kajian Melayu, menyampaikan gagasan besar mengenai pentingnya menjadikan Dumai sebagai Kota Adat dan Adab. Menurut beliau, budaya Melayu tidak hanya diwujudkan dalam bentuk fisik (tangible culture), tetapi juga melalui nilai-nilai, etika, sopan santun, serta adab yang menjadi ruh kehidupan masyarakat (intangible culture). Oleh sebab itu, pembangunan budaya harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui simbol-simbol budaya, tetapi juga melalui pembentukan karakter masyarakat.


Dalam paparannya, Prof. Noriah juga mendorong agar IAITF Dumai berkembang menjadi Center of Malay Manuscripts atau pusat manuskrip Melayu. Menurutnya, keberadaan manuskrip Melayu merupakan khazanah intelektual yang sangat berharga dan harus dilestarikan melalui pendidikan, penelitian, serta pengembangan pusat dokumentasi yang memadai. Beliau juga mengusulkan agar lingkungan kampus memiliki bangunan berciri khas rumah Melayu sebagai representasi identitas budaya yang dapat menjadi kebanggaan sivitas akademika.


Lebih lanjut, Prof. Noriah menekankan pentingnya menghidupkan kembali berbagai simbol dan nilai budaya Melayu, seperti pelestarian tulisan Jawi, penggunaan pakaian adat Melayu, tengkolok, selendang, keris, songket, batik Melayu, hingga menghadirkan pantun dan peribahasa Melayu pada ruang-ruang publik. Menurutnya, makanan khas Melayu, syair, gurindam, seloka, tarian, dan musik tradisional juga harus terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Ia juga mengusulkan agar setiap kampung memiliki produk budaya unggulan yang dapat dikembangkan sebagai potensi ekonomi sekaligus daya tarik wisata budaya Kota Dumai.
Sesi berikutnya membahas ketokohan Hang Tuah dan arah pengembangan Budaya Melayu Riau. Dalam kesempatan tersebut, Rektor IAITF Dumai, Assoc. Prof. Dr. M. H. Rizal Akbar, M.Phil., menyampaikan bahwa pembelajaran adat dan budaya Melayu perlu diperkuat kembali sejak jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan tokoh seperti Hang Tuah tidak semata-mata dipandang dari aspek historis, tetapi lebih penting lagi sebagai sumber keteladanan dalam membangun karakter, keberanian, loyalitas, serta semangat kebangsaan.
Sebagai bentuk komitmen IAITF Dumai dalam pelestarian Budaya Melayu Riau, Prof. Rizal Akbar juga mengungkapkan rencana pembukaan Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan Konsentrasi Budaya Melayu Riau. Program tersebut diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik di bidang keislaman, tetapi juga memiliki kapasitas dalam penelitian, pengembangan, serta pelestarian Budaya Melayu Riau. Menurutnya, masih sangat sedikit penelitian ilmiah yang secara khusus mengkaji budaya Melayu, sehingga keberadaan program ini diharapkan mampu melahirkan generasi peneliti dan pakar budaya Melayu pada masa mendatang.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai masukan dari peserta. Safriah dari PGU Kota Dumai mengusulkan perlunya pembakuan adat Melayu Dumai, peningkatan kompetensi guru Budaya Melayu Riau, pelatihan bagi Mak Andam, serta penyusunan standar adat perkawinan Melayu yang sesuai dengan nilai-nilai budaya dan syariat. Sementara itu, Datuk LAM Dumai menekankan pentingnya dokumentasi budaya, penyediaan informasi budaya Melayu di hotel-hotel, hingga memperdengarkan lagu-lagu Melayu di bandara sebagai bentuk penguatan identitas daerah. Berbagai usulan lainnya juga mengemuka, seperti peningkatan kesejahteraan guru BMR, penyelenggaraan kongres Budaya Melayu, pembentukan tim kerja lintas lembaga, serta penguatan kerja sama dengan Balai Guru dan BPMP dalam mendukung implementasi Budaya Melayu Riau di sekolah.
Menjelang penutupan kegiatan, Prof. Noriah Mohamed kembali mengingatkan bahwa adat tidak akan memiliki makna apabila tidak disertai dengan adab. Beliau mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan nilai-nilai Melayu sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, membangun kepedulian sosial, serta terus menjaga semangat kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya. Menurutnya, kekuatan budaya terletak pada kemauan masyarakat untuk menjaga dan mengamalkannya secara konsisten dari generasi ke generasi.
Pada sesi penutup, Prof. Dr. Ghazali Basri menegaskan bahwa kecerdasan peradaban Melayu tercermin dari kemampuannya mengadaptasi tulisan Arab menjadi tulisan Jawi yang sesuai dengan lidah Melayu. Beliau juga mendorong para pendidik untuk terus memperkaya khazanah keilmuan melalui karya-karya tokoh besar Melayu serta memastikan bahasa Melayu tetap berkembang sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan peradaban.
Melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion ini, IAITF Dumai menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan pendidikan tinggi, tetapi juga menjadi pusat pelestarian, pengkajian, dan pengembangan Budaya Melayu Riau. Kolaborasi yang terbangun antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga adat, dunia pendidikan, dan masyarakat diharapkan mampu menghasilkan langkah-langkah konkret dalam memperkuat identitas Melayu, membangun karakter generasi muda, serta mewujudkan Kota Dumai sebagai pusat peradaban Melayu yang berlandaskan ilmu, adat, dan adab.
Penulis : Shazrima
