IAITF Dumai Perkuat Budaya Melayu Riau, Hadirkan Dua Profesor Malaysia untuk Bekali Guru se-Kota Dumai

Iaitfdumai.ac.id – DUMAI – Komitmen Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai dalam memperkuat identitas keilmuan berbasis Tamadun Melayu kembali diwujudkan melalui Seminar Penguatan Budaya Melayu Riau Bersama Guru se-Kota Dumai yang menghadirkan dua akademisi terkemuka dari Malaysia, Prof. Dr. Ghazali Basri dan Prof. Dr. Noriah Mohamed, pada Rabu (1/7/2026) di Ruang Seminar IAITF Dumai. Kegiatan ini memperkuat posisi IAITF sebagai kampus terdepan dipesisir Selat Melaka.

Kegiatan yang diikuti guru-guru BMR se-Kota Dumai tersebut menjadi wadah strategis untuk memperkuat pemahaman mengenai sejarah, budaya, bahasa, dan peradaban Melayu sebagai bagian penting dari identitas masyarakat pesisir Selat Melaka. Seminar ini juga menjadi bentuk kolaborasi IAITF Dumai dengan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP/MTs Kota Dumai dalam mendukung peningkatan kualitas pembelajaran Budaya Melayu Riau (BMR).

Acara dibuka secara resmi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan Shalawat Thibbil Qulub, doa yang dipimpin Dr. Deni Suryanto, M.Pd., serta sambutan Rektor IAITF Dumai. Hadir dalam kegiatan tersebut Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Rizal Akbar, S.Si., M.Phil., Dr. Windayani, M.Pd., Dr. Wiwid Hadi Sumitro, S.Pd.I., M.Pd., Dr. Deni Suryanto, M.Pd., Dr. (Cand.) Susiana, S.Sy., M.A., Dr. Neneng Desi Susanti, S.H.I., M.Sy., Khairul Azmi, S.H.I., M.E., Tuti Syafrianti, S.Pd., M.Pd., jajaran dosen, tenaga kependidikan IAITF Dumai, serta Ketua MKKS SMP/MTs Kota Dumai H. Andi Effendi, S.Si., M.Si. beserta para guru.

Dalam sambutannya, Rektor IAITF Dumai, Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Rizal Akbar, S.Si., M.Phil., mengajak seluruh peserta untuk memandang peradaban Melayu secara utuh sebagai salah satu peradaban besar dunia yang pernah mencapai masa kejayaannya.

“Melayu jangan dipandang sebagai sesuatu yang kecil. Dahulu kawasan Melayu menjadi pusat perdagangan dunia melalui jalur Selat Melaka. Itu menunjukkan bahwa tamadun Melayu adalah peradaban yang maju, terbuka, dan berilmu. Karena itulah IAITF menetapkan kajian Pesisir Selat Melaka sebagai distingsi kampus yang terus kami kembangkan,” ujar Rektor.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa IAITF memiliki cita-cita besar menjadikan lulusan dan guru-guru di kawasan Melayu mampu berkiprah hingga tingkat Asia Tenggara.

“Kami ingin melahirkan guru-guru yang tidak hanya mengajar di Dumai, tetapi juga mampu berkontribusi di Thailand, Malaysia, Brunei, bahkan kawasan Asia Tenggara lainnya. Alam Melayu adalah ruang peradaban yang saling terhubung, sehingga wawasan tentang budaya dan sejarah Melayu harus terus diperkuat,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua MKKS SMP/MTs Kota Dumai, H. Andi Effendi, S.Si., M.Si., menyampaikan apresiasi atas inisiatif IAITF Dumai yang menghadirkan seminar sekaligus penguatan kompetensi guru Budaya Melayu Riau.Ia mengungkapkan bahwa selama ini salah satu tantangan dalam implementasi mata pelajaran Budaya Melayu Riau adalah masih banyak guru yang mengajar bukan berasal dari bidang keilmuan yang relevan.

“Kami menyambut baik kehadiran konsentrasi Pendidikan Agama Islam Budaya Melayu Riau yang dikembangkan IAITF. Ini menjadi harapan baru dalam menyiapkan tenaga pendidik yang benar-benar memahami sejarah, adat istiadat, bahasa, dan budaya Melayu secara komprehensif. Kami berharap lahir para pakar yang mampu menjadi rujukan ketika berbicara tentang Melayu,” ujarnya.

Usai sesi seremonial dan foto bersama, kegiatan dilanjutkan dengan seminar ilmiah yang dipandu Dr. (Cand.) Dawami, S.Sos., M.I.Kom. sebagai moderator. Dalam paparannya, Prof. Dr. Ghazali Basri mengulas perjalanan sejarah peradaban Melayu sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan Islam di kawasan Asia Tenggara, sementara Prof. Dr. Noriah Mohamed menekankan pentingnya pelestarian bahasa Melayu, tulisan Jawi, manuskrip klasik, serta pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda melalui dunia pendidikan.

Seminar berlangsung dalam suasana hangat, interaktif, dan penuh antusiasme. Para guru bersama dosen dan mahasiswa tidak hanya menyimak pemaparan materi, tetapi juga mengikuti praktik pengenalan aksara Jawi, mempelajari kaidah penulisan serta pembacaannya, sekaligus mendalami kekayaan sastra Melayu melalui pantun dan syair sebagai bagian dari warisan intelektual dan budaya Melayu. Sesi tersebut menjadi ruang pembelajaran yang memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui teori semata, tetapi perlu dihidupkan melalui praktik, pembiasaan, dan pewarisan kepada generasi muda.

Seminar ini sekaligus mempertegas posisi IAITF Dumai sebagai perguruan tinggi yang konsisten mengembangkan kajian Tamadun Melayu Pesisir Selat Melaka sebagai distingsi akademik. Tidak hanya melalui pengembangan kurikulum, tetapi juga melalui kolaborasi bersama pemerintah, sekolah, dan akademisi internasional dalam melahirkan sumber daya manusia yang mampu menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan warisan intelektual Melayu kepada dunia.

Kegiatan ditutup dengan ramah tamah dan makan siang bersama di Kantin IAITF Dumai sebagai bentuk penguatan silaturahmi antara sivitas akademika, narasumber internasional, dan para guru se-Kota Dumai.

Penulis: Nini Nursima

Written by