Kuliah Ramadhan IAITF Dumai: Dr. Windayani Ajak Masyarakat Beralih dari FOMO Menuju Taqwa

Iaitfdumai.ac.id – DUMAI — Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai menghadirkan program Kuliah Ramadhan yang disiarkan secara langsung melalui kanal Tafidu TV pada Kamis, 12 Maret 2026 pukul 10.00 WIB. Kegiatan yang mengangkat tema “Ilmu, Iman, dan Peradaban” tersebut menghadirkan Dr. Windayani, M.Pd, Wakil Rektor IAITF Dumai, sebagai narasumber utama.

Kuliah Ramadhan ini dapat disaksikan secara langsung melalui kanal YouTube Tafidu TV: https://youtu.be/hAfAkkOwegc

Dalam pemaparannya, Dr. Windayani mengangkat gagasan menarik bertajuk “Ramadhan Reset: dari FOMO menuju Taqwa”, sebuah refleksi spiritual tentang bagaimana bulan Ramadhan menjadi momentum penting bagi manusia untuk menata ulang orientasi hidupnya. Ia menjelaskan bahwa puasa tidak hanya sekadar perubahan pola makan, tetapi merupakan proses pembaruan diri yang mengarahkan manusia dari kegelisahan sosial menuju ketenangan spiritual.

Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 yang menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Menurutnya, di tengah kehidupan modern yang dipenuhi arus informasi dan tuntutan sosial, banyak orang mengalami fenomena FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal dari tren, informasi, atau pengakuan sosial.

Ramadhan hadir seperti tombol restart dalam kehidupan manusia. Ia mengajak kita mengubah orientasi hidup dari mengejar validasi eksternal menuju keteguhan internal yang bernama taqwa,” jelasnya.

Dr. Windayani menjelaskan bahwa fenomena FOMO tidak hanya berdampak pada aspek psikologis, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas spiritual seseorang. Ketika manusia terlalu sibuk mengikuti arus keramaian digital, ruang hati untuk refleksi, dzikir, dan kesadaran spiritual menjadi semakin sempit.

Menurutnya, puasa merupakan latihan spiritual yang sangat mendalam karena melatih manusia menahan dorongan diri, menunda impuls, serta membangun kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aktivitas kehidupan. Dalam perspektif ini, Ramadhan menjadi semacam “sekolah pengendalian diri” yang melatih manusia untuk tidak selalu mengikuti setiap dorongan keinginan.

Ia juga menyoroti bagaimana dunia digital saat ini bekerja melalui perebutan perhatian manusia. Notifikasi, tren, dan algoritma media sosial membuat manusia terus terhubung namun sering kali kehilangan makna. Karena itu, Ramadhan dapat menjadi momentum untuk melakukan “disiplin digital”, yaitu menata kembali hubungan manusia dengan teknologi agar teknologi tetap menjadi alat, bukan pengendali kehidupan.

Lebih jauh, Dr. Windayani menegaskan bahwa ketakwaan tidak hanya berhenti pada pengendalian diri, tetapi juga melahirkan kepedulian sosial. Puasa mengajarkan empati terhadap sesama, memperkuat solidaritas, serta menumbuhkan kesadaran untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Menurutnya, masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang paling ramai atau paling viral, melainkan masyarakat yang memiliki keadaban, kedisiplinan, dan kepedulian sosial yang tinggi. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi penting bagi terbentuknya peradaban yang sehat dan berkelanjutan.

Melalui Kuliah Ramadhan ini, IAITF Dumai berharap masyarakat dapat memaknai Ramadhan bukan sekadar sebagai rutinitas ibadah tahunan, tetapi sebagai momentum pembaruan diri menuju kehidupan yang lebih bermakna, tenang, dan berorientasi pada ridha Allah SWT.

Program Kuliah Ramadhan yang disiarkan melalui Tafidu TV ini merupakan bagian dari komitmen IAITF Dumai dalam menghadirkan dakwah dan pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai spiritual dan peradaban Islam.

Written by