Iaitfdumai.ac.id- Masjid Kampung Hulu, masjid tertua di Melaka yang telah berdiri sejak 1728, kembali menjadi saksi bagi rangkaian kegiatan spiritual dan intelektual dalam program Kuliah Kerja Nyata Kajian Islam Pesisir Selat Melaka (KKN KIPSM) 2025. Pada pagi Selasa, 29 Juli 2025, suasana khusyuk terasa saat peserta KKN dan para tamu kehormatan berkumpul dalam acara bertajuk “Kuliah Dhuha” yang diisi dengan tausiyah, silaturahmi, dan refleksi keislaman lintas negara.




Acara dibuka secara resmi oleh MC dengan salam dan lantunan ayat Al-Fatihah, mengiringi sambutan pertama dari Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Rizal Akbar, S.Si, M.Phil selaku Rektor IAITF Dumai sekaligus Sekretaris Jenderal PIPSM. Beliau menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari masyarakat Melaka serta menekankan pentingnya ikatan keilmuan dan spiritualitas dalam mempererat hubungan dua negara serumpun.




Sambutan kedua datang dari Tok Imam Masjid Kampung Hulu, Tuan Muhammad Syafiq bin Ramli, yang memaparkan sejarah panjang dan keunikan arsitektur masjid ini. Dalam bahasa Melayu klasik yang penuh santun, beliau menjelaskan tentang keistimewaan struktur masjid yang mencerminkan akulturasi budaya Islam, Tionghoa, dan local, mulai dari mimbar ukiran, beduk khas, hingga susunan bumbung tiga lapis yang menjadi simbol hubungan manusia, langit, dan Sang Pencipta. Beliau juga menyinggung amalan fitri di masjid ini seperti pengajian Ramadan, serta kegiatan kebajikan masyarakat yang berterusan sejak zaman Kesultanan Melaka.




Puncak kegiatan diisi dengan kajian Al-Qur’an oleh Prof. Madya Dr. Faizal Piramli yang mengupas mendalam surah Al-Jumu’ah ayat 9–13. Beliau menyoroti betapa pentingnya menanggapi seruan shalat Jumat sebagai manifestasi ketaatan sosial dan spiritual umat Islam. Dalam penyampaiannya, beliau menyentil relasi antara nilai-nilai Qur’ani dan dinamika masyarakat kontemporer, seraya mengajak peserta untuk merefleksikan urgensi ibadah sebagai tonggak peradaban.




Acara ditutup dengan doa yang juga dipimpin oleh Prof. Madya Faizal, kemudian seluruh peserta dan hadirin menikmati sarapan khas nasi lemak bersama di pelataran masjid yang teduh. Momen ini tidak hanya mengenyangkan secara jasmani, tetapi juga mempererat ukhuwah, memperkuat memori kolektif, dan menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual dan budaya yang selama ini menjadi warisan Islam di pesisir Selat Melaka.
