Iaitfdumai.ac.id – Melaka, 28 Juli 2025, Semangat keilmuan dan penguatan jati diri Melayu Islam mewarnai hari keenam kegiatan Kuliah Kerja Nyata Khazanah Islam Pesisir Selat Melaka (KKN KIPSM) 2025. Bertempat di Masjid Kampung Hulu, peserta KKN dari IAITF Dumai, Universitas Lancang Kuning, dan STAI Ar-Ridho Bagan Siapi-Api, Rokan Hilir mengikuti kegiatan bertajuk Kajian Manuskrip dan Ketamadunan, sebuah forum yang menggali kedalaman sejarah intelektual dan warisan spiritual dunia Melayu Islam.




Acara ini menghadirkan dua narasumber utama yang masing-masing menyampaikan kajian dengan sudut pandang yang saling melengkapi. Abu Huzaifah bin Hashim lebih banyak menyoroti warisan tidak ketara, yakni sisi filosofis, nilai-nilai tasawuf, serta ketamadunan spiritual masyarakat Melayu yang kental dengan ajaran Islam. Ia mengangkat pentingnya Pulau Besar sebagai representasi nilai warisan tak kasat mata, sebuah titik ziarah yang mengabadikan jejak para ulama besar sebagai poros penyebaran Islam Nusantara dan pencarian makna hidup.


โPulau Besar adalah ruang reflektif ketamadunan spiritual. Di situ, bukan hanya jejak fisik yang kita telusuri, tapi nilai-nilai perenungan dan kesadaran ruhani,โ ujar Abu Huzaifah penuh semangat. Menurutnya, tasawuf bukan sekadar laku hidup, tapi juga bentuk peradaban yang mendalam dalam khazanah Melayu.


Sementara itu, Ahmad Syarifuddin bin Samsudin mengarahkan pembahasannya pada warisan ketara, yaitu manuskrip-manuskrip fisik yang menjadi bukti eksistensi intelektual umat Islam Melayu sejak berabad-abad lalu. Ia menjelaskan bahwa istilah manuskrip bukan sekadar merujuk pada buku cetakan, tetapi mencakup tulisan tangan, salinan bersurat cap (cop), hingga bentuk fisik lainnya yang kini banyak dijadikan kitab terbitan modern.
โKalau bukan kita yang merawat dan mempelajarinya, siapa lagi?โ tegas Ahmad Syarifuddin. Ia mendorong generasi muda untuk aktif menelusuri naskah lama sebagai pintu masuk memahami sejarah, hukum, dan ajaran-ajaran Islam dalam konteks lokal.


Acara dibuka dengan pembacaan Al-Fatihah dan sambutan dari Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si., M.Phil., selaku Rektor IAITF Dumai dan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM). Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menyelami naskah-naskah tua dan nilai-nilai budaya sebagai fondasi untuk memahami Islam yang membumi, merangkul, dan membentuk identitas kawasan.




Setelah kajian selesai, para peserta menikmati sarapan khas roti canai yang menjadi simbol keakraban dan kekeluargaan dalam balutan suasana ilmiah. Tidak hanya sampai di sana, seluruh AJK PIPSM dari UiTM Melaka dan IAITF Dumai melanjutkan kegiatan dengan melakukan ziarah ke makam Syekh Syamsuddin As-Sumatrani, seorang ulama besar yang jejak pemikirannya menyeberangi samudra dan waktu.




Kegiatan ini menjadi napas intelektual dan spiritual dalam rangkaian KKN KIPSM 2025, mempertemukan antara ilmu, budaya, dan tradisi dalam satu simpul penting: bahwa Islam di pesisir bukan sekadar warisan, tapi amanah yang harus terus dihidupkan.
