Pentas Warisan Seni Budaya Melayu Digelar Polres Dumai, IAITF Dumai Jadi Sorotan

Iaitfdumai.ac.id – Dumai – Polres Dumai menggelar kegiatan bertajuk Pentas Warisan Seni Budaya Tanah Melayu pada Sabtu malam, 26 Juli 2025, di halaman Mapolres Dumai. Acara ini menjadi panggung yang menggugah semangat pelestarian adat istiadat dan kebudayaan Melayu di tengah masyarakat Kota Dumai. Dengan menghadirkan berbagai unsur budaya, mulai dari kuliner, busana tradisional, hingga permainan rakyat, kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan komunitas seni setempat.

Ketua Panitia, AKP Hardiyanto, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan kekayaan budaya Melayu kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda. Dalam sambutannya, ia mengundang Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai sebagai mitra strategis yang dinilai konsisten dan aktif dalam mengembangkan budaya Melayu di ranah pendidikan tinggi. Keterlibatan IAITF menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya tak hanya hidup dalam seni dan tradisi, tetapi juga tumbuh di lingkungan akademik.

Mahasiswa IAITF turut memeriahkan acara dengan menampilkan ragam kekayaan budaya Melayu. Mereka memperkenalkan aneka kuliner khas seperti pulut kuning rendang daging, puteri berendam, anyang ayam, dan gulai kepiting pesisir. Sajian-sajian ini tidak hanya menggugah selera, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan tradisi kuliner yang kaya akan makna sosial dan sejarah.

Selain kuliner, IAITF juga menampilkan ragam busana Melayu tradisional, termasuk tengkolok perempuan warisan. Penampilan para mahasiswi dalam balutan busana adat yang anggun dan penuh simbolisme ini mengundang decak kagum penonton, sekaligus mempertegas bahwa busana Melayu bukan sekadar warisan visual, melainkan representasi dari jati diri dan falsafah hidup masyarakat Melayu.

Dosen pembimbing kegiatan dari IAITF Dumai, Tengku Mahesa Khalid, M.M., menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa untuk tampil dalam ruang budaya publik. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam pentas ini bukan hanya tentang performa, tetapi bagian dari proses pendidikan karakter dan penguatan identitas lokal. Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dalam wacana akademik, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata yang melibatkan langsung generasi muda.

Kami di IAITF berkeyakinan bahwa mahasiswa harus mengalami budaya, bukan hanya mempelajarinya. Ketika mereka memasak makanan Melayu, mengenakan pakaian adat, dan berdiri di depan publik, di situlah proses pendidikan sesungguhnya berlangsung,” ungkapnya.

Kegiatan ini juga diramaikan oleh pegiat seni dari berbagai komunitas seperti Sanggar Tabuh Gemilang Gagak Hitam, kelompok permainan rakyat seperti pergasing dan layang, komunitas tenun, serta Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kota Dumai. Kolaborasi lintas komunitas ini menjadikan acara tidak sekadar hiburan, tetapi juga sebagai bentuk pernyataan bersama bahwa budaya Melayu harus terus dijunjung tinggi.

Dengan mengusung semangat “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, takkan Melayu hilang di bumi,” Pentas Warisan Seni Budaya ini menjadi penegas bahwa nilai-nilai tradisi dapat terus hidup melalui sinergi antara institusi, komunitas, dan generasi muda. IAITF Dumai, dalam hal ini, menunjukkan peran aktifnya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga penggerak budaya.

Written by