Sebuah Catatan Oleh : Lestary Fitriany (Dosen Prodi Ekonomi Syariah IAITF Dumai)
Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai menjadikan literasi keuangan sebagai napas yang menjiwai pengembangan akademik di bidang ekonomi syariah. Kampus ini secara konsisten bermitra dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan Pemerintah Kota Dumai untuk menyelenggarakan program edukasi bertajuk “Milenial dan Gen Z Melek Finansial” yang mempertemukan ratusan mahasiswa dengan praktisi industri. Upaya tersebut sejalan dengan capaian Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang mencatat indeks literasi naik dari 38,03 % (2019) menjadi 49,68 % (2022) dan kembali melonjak pada rilis Mei 2025, sehingga IAITF berada pada rel yang tepat untuk memperkecil gap literasi–inklusi di Riau.





Komitmen itu tercermin pada kurikulum Program Studi Ekonomi Syariah IAITF yang memasukkan mata kuliah seperti “Ekonomi Keuangan Islam”, “Manajemen Koperasi dan UKM”, hingga “Manajemen Risiko & Asuransi Syariah” sebagai fondasi kompetensi mahasiswa. Dengan bekal tersebut, lulusan diproyeksikan menjadi analis kebijakan fiskal-moneter, perencana pembangunan daerah, dan entrepreneur syariah yang berkepribadian baik serta bertanggung jawab. Penguatan juga datang dari hadirnya Fakultas Ekonomi Islam yang berdiri berdampingan dengan Fakultas Syariah dan Tarbiyah, menjadikan IAITF satu-satunya kampus Islam di Dumai yang menawarkan rantai pendidikan ekonomi syariah dari S-1 hingga magister.
Momentum puncak literasi tahun ini terjadi pada 8 Mei 2025, saat Aula Utama IAITF dipadati mahasiswa yang antusias mengikuti seminar literasi keuangan yang dibuka resmi oleh Ketua TPAKD Kota Dumai. Agenda yang diinisiasi OJK Riau bersama Bursa Efek Indonesia dan BRK Syariah itu mengupas strategi perencanaan keuangan, investasi halal, dan pemanfaatan teknologi finansial secara bijak. Semangat peserta juga diunggah oleh Diskominfo Dumai di kanal media sosialnya, menegaskan posisi IAITF sebagai pusat diseminasi pengetahuan finansial di kota pelabuhan tersebut.
Sebulan sebelumnya, perwakilan OJK Reftika Lestari hadir dalam sesi edukasi keuangan yang dipublikasikan di laman resmi IAITF, menekankan pentingnya budgeting dan proteksi keuangan bagi mahasiswa sedini mungkin. Dalam forum tersebut, mahasiswa diajak menelusuri studi kasus pinjaman daring, optimalisasi zakat, serta pengelolaan dana darurat, menjadikan literasi keuangan tidak lagi sekadar teori tetapi keterampilan hidup.
Untuk memastikan transfer ilmu berlanjut ke praktik, IAITF memasang mata kuliah praktik—mulai “Praktek Perbankan Syariah” sampai “Pasar Modal & Keuangan Syariah”—yang memanfaatkan laboratorium mini-bank dan simulasi bursa. Di sisi penelitian, jurnal kampus seperti “Al-Hisbah” dan “Jurnal Tafidu” rutin memuat artikel mengenai inklusi keuangan syariah sebagai kontribusi ilmiah bagi daerah. Jejak lebih dari 3 000 alumni yang kini berkarier sebagai bankir, dosen, dan wirausahawan membuktikan efektivitas ekosistem literasi keuangan IAITF dalam mencetak agen perubahan.
Statistik SNLIK 2022 menunjukkan gap literasi–inklusi turun menjadi 35,42 %, namun OJK menegaskan kalangan muda masih rawan terjebak produk keuangan digital tanpa pemahaman matang—pesan yang diulang pada rilis SNLIK 2025. Di titik inilah IAITF, dengan bauran teori, praktik dan nilai Islam, berperan sebagai jembatan yang mempertemukan statistik nasional dengan realitas lokal.
Ke depan, kombinasi kekokohan akademik, jejaring praktisi, dan budaya riset membuat IAITF bukan sekadar kampus tetapi inkubator literasi keuangan yang mematrikan prinsip syariah sebagai pedoman bermuamalah di era digital. Ketika mahasiswa memahami bahwa menabung adalah ibadah, berinvestasi adalah amanah, dan risiko harus dikelola dengan ihsan, mereka pulang sebagai duta literasi yang menyalakan obor kemandirian finansial di tengah masyarakat.
