Kuala Lumpur, 7 September 2026 β Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai, Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil., melakukan kunjungan akademik ke Perpustakaan Negara Malaysia bersama Ustad Faizarul Azwan Bin Maskan, pakar manuskrip dari Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM). Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kajian manuskrip Melayu-Jawi, sejarah intelektual Islam, serta jejaring keilmuan kawasan Pesisir Selat Melaka.
Dalam kunjungan tersebut, Rektor IAITF dan Ustad Faizarul Azwan menelaah sejumlah koleksi manuskrip dan surat-surat Melayu lama yang tersimpan di Perpustakaan Negara Malaysia. Dokumen-dokumen tersebut memperlihatkan kekayaan tradisi tulis Melayu-Jawi dan hubungan politik, diplomatik, sosial, serta intelektual antara kerajaan-kerajaan Melayu di Nusantara.








Salah satu dokumen yang ditelaah adalah manuskrip berkode MSS 1536, yang tersimpan dan terdokumentasi oleh Perpustakaan Negara Malaysia. Pada halaman manuskrip tampak tulisan Jawi dengan cap kerajaan yang menjadi unsur penting dalam autentikasi surat tradisional Melayu.
Koleksi lainnya adalah manuskrip MSS 1535, yang juga memperlihatkan surat berbahasa Melayu dalam aksara Jawi, lengkap dengan cap resmi dan tanda tangan. Keberadaan unsur-unsur tersebut memberikan gambaran mengenai tradisi administrasi, komunikasi diplomatik, dan tata persuratan kerajaan Melayu pada awal abad ke-20.
Selain itu, rombongan turut mencermati manuskrip MSS 4013, yang pada sampul koleksinya tercatat sebagai βSurat kepada KDYMM Sultan Pahangβ. Halaman berikutnya memperlihatkan naskah tulisan Jawi yang cukup panjang, sekaligus menunjukkan keberagaman bentuk dokumen kerajaan yang tersimpan dalam koleksi Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia.
Koleksi lain yang menarik perhatian adalah surat dari Sultan Ratu Mahmud Badaruddin dari Palembang kepada Thomas Raffles Esquire di Melaka, bertarikh 1 Rabiulawal 1226 H / 1811 M. Pada halaman pertama dokumen terlihat tulisan Jawi yang sangat padat dengan bentuk kepala surat dan cap kerajaan yang artistik. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa jaringan komunikasi politik dan diplomatik kerajaan Melayu pada masa lalu berlangsung melintasi wilayah yang sekarang berada di Indonesia, Malaysia, dan kawasan sekitarnya.
Bagi Rektor IAITF, keberadaan manuskrip-manuskrip tersebut bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi merupakan sumber primer yang sangat penting dalam merekonstruksi sejarah peradaban Melayu-Islam. Manuskrip memberikan informasi langsung mengenai bahasa, sistem pemerintahan, hubungan antarkerajaan, perdagangan, pendidikan, keagamaan, hukum, hingga struktur sosial masyarakat Melayu pada zamannya.
βManuskrip seperti ini harus dibaca bukan hanya sebagai benda lama, tetapi sebagai rekaman pemikiran dan peradaban. Di dalamnya ada hubungan kerajaan, tradisi ilmu, sistem administrasi, bahasa diplomatik, bahkan cara masyarakat Melayu memahami dunia pada masanya,β demikian semangat yang mengemuka dalam kunjungan tersebut.
Kehadiran Ustad Faizarul Azwan Bin Maskan sebagai pakar manuskrip PIPSM turut memperkaya proses telaah. Keahlian dalam membaca aksara Jawi, mengidentifikasi bentuk surat, cap, istilah lama, serta konteks sejarah sangat diperlukan agar manuskrip tidak berhenti pada tahap dokumentasi visual, tetapi dapat dikembangkan menjadi bahan penelitian akademik yang lebih mendalam.
Kunjungan ini juga sejalan dengan arah pengembangan akademik IAITF Dumai yang memberi perhatian terhadap kajian Islam, Melayu, manuskrip, dan peradaban Pesisir Selat Melaka. Melalui kerja sama dengan PIPSM dan lembaga-lembaga di Malaysia, IAITF diharapkan dapat mengembangkan penelitian manuskrip, transliterasi Jawi, kajian tokoh dan kerajaan Melayu, serta publikasi ilmiah bersama.
Ke depan, hasil penelusuran manuskrip di Perpustakaan Negara Malaysia dapat dikembangkan menjadi berbagai program, seperti inventarisasi manuskrip Melayu pesisir, transliterasi Jawi ke Rumi, seminar internasional, penerbitan buku, kajian sejarah kerajaan Melayu, serta bahan pembelajaran mahasiswa. Langkah ini sekaligus membuka peluang menjadikan kawasan Pesisir Selat Melaka sebagai ruang riset bersama yang menghubungkan perguruan tinggi Indonesia dan Malaysia.
ditulis oleh; Tary
