Negeri Sembilan, 6 September 2026 — Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai, Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil., bersama Tim Manuskrip Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM) melakukan kunjungan ilmiah dan ziarah sejarah ke Makam Tuan Tulis di Kampung Kuala Talang, Tanjung Ipoh, Kuala Pilah, Negeri Sembilan, Malaysia, pada Minggu, 6 September 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Rektor IAITF didampingi oleh Tim Manuskrip PIPSM, yakni Ustad Syarifudin Bin Syamsudin Al-Fahani, Al-Yamani, dan Ustad Faizarul Azwan Bin Maskan. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian penelusuran jejak ulama, pusat pendidikan Islam, dan warisan manuskrip Melayu di kawasan Pesisir Selat Melaka.




Makam Tuan Tulis merupakan salah satu situs penting dalam sejarah perkembangan Islam di Negeri Sembilan. Tuan Tulis dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki perhatian besar terhadap tradisi keilmuan dan penyalinan kitab. Gelar “Tuan Tulis” sendiri berkaitan erat dengan kebiasaannya menyalin kitab-kitab agama secara manual pada masa ketika akses terhadap kitab cetak masih sangat terbatas.
Tradisi tersebut menjadikan Tuan Tulis bukan hanya dikenang sebagai tokoh agama, tetapi juga sebagai bagian dari mata rantai penting budaya tulis Islam Melayu. Aktivitas menyalin kitab pada masa itu memiliki peranan besar dalam menjaga keberlangsungan pengetahuan, terutama dalam masyarakat yang mengandalkan sistem pendidikan surau, masjid, pondok, dan pengajian tradisional.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan mengamati langsung kawasan makam, masjid, serta papan informasi sejarah yang berada di kompleks tersebut. Keberadaan masjid dan makam dalam satu kawasan menunjukkan hubungan yang kuat antara ulama, pendidikan Islam, masyarakat, dan ruang keagamaan pada masa lalu.
Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar menilai bahwa situs seperti Makam Tuan Tulis perlu dipahami tidak hanya sebagai tempat ziarah, tetapi juga sebagai sumber sejarah dan objek kajian akademik.
“Tokoh seperti Tuan Tulis memperlihatkan kepada kita bagaimana tradisi keilmuan Islam Melayu dibangun melalui ketekunan belajar, menyalin, mengajar, dan mewariskan ilmu. Ini merupakan bagian penting dari peradaban Melayu-Islam yang perlu didokumentasikan dan diteliti secara lebih sistematis,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kawasan Pesisir Selat Melaka memiliki jaringan ulama dan pusat-pusat keilmuan yang sangat luas. Jejak tersebut tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sumatra, Semenanjung Malaysia, hingga daerah-daerah lain yang memiliki hubungan historis melalui perdagangan, dakwah, pendidikan, dan jaringan kerajaan Melayu.
Tim Manuskrip PIPSM memandang kunjungan ke Makam Tuan Tulis sebagai langkah awal untuk memperluas pemetaan terhadap tokoh-tokoh ulama dan peninggalan manuskrip yang masih tersimpan di tengah masyarakat. Pemetaan tersebut diharapkan dapat menghasilkan dokumentasi sejarah yang lebih komprehensif, termasuk penelusuran terhadap kitab, manuskrip Jawi, silsilah keilmuan, dan tradisi pendidikan Islam yang berkembang pada masa lalu.
Ustad Syarifudin Bin Syamsudin Al-Fahani bersama Al-Yamani dan Ustad Faizarul Azwan Bin Maskan juga menaruh perhatian terhadap aspek manuskrip dan tradisi literasi yang melekat pada sosok Tuan Tulis. Menurut tim, gelar “Tuan Tulis” sendiri merupakan petunjuk penting tentang kuatnya budaya penyalinan kitab dalam tradisi Islam Melayu.
Kunjungan ini sekaligus membuka peluang bagi PIPSM dan IAITF Dumai untuk mengembangkan kajian lebih lanjut tentang hubungan antara ulama, manuskrip, masjid, dan kerajaan Melayu. Pendekatan tersebut dinilai penting karena sejarah Islam di kawasan Selat Melaka tidak hanya dibentuk oleh peristiwa politik dan perdagangan, tetapi juga oleh jaringan intelektual yang tumbuh melalui para ulama dan lembaga pendidikan.
Rektor IAITF juga menegaskan bahwa hasil perjalanan ilmiah seperti ini dapat dikembangkan menjadi bahan pembelajaran, artikel ilmiah, dokumentasi digital, pameran manuskrip, hingga pengembangan wisata berbasis sejarah dan riset.
“Warisan seperti ini harus diperkenalkan kepada generasi muda. Mereka perlu mengetahui bahwa peradaban Melayu-Islam memiliki tradisi literasi dan keilmuan yang sangat kuat. Manuskrip, makam ulama, masjid tua, dan pusat-pusat pengajian merupakan bagian dari arsip besar peradaban kita,” katanya.
Kunjungan ke Makam Tuan Tulis pada 6 September 2026 menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan Tim Manuskrip PIPSM dalam menelusuri jejak intelektual ulama Melayu. Melalui kegiatan tersebut, PIPSM bersama IAITF Dumai terus mendorong penguatan kajian sejarah, manuskrip, pendidikan Islam, dan kebudayaan Melayu di kawasan Pesisir Selat Melaka.
Perjalanan tersebut juga menegaskan semangat kolaborasi lintas wilayah dalam menjaga warisan intelektual Melayu. Dari makam seorang ulama di Kuala Talang, tersimpan pesan besar bahwa tradisi menulis, menyalin, mengajar, dan mewariskan ilmu merupakan salah satu fondasi utama peradaban Islam Melayu.
ditulis oleh : Lestary
