Kuala Terengganu, 9 September 2026 — Perjalanan akademik dan kebudayaan Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil bersama Tim Manuskrip Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM) di Terengganu menghadirkan pengalaman yang tidak sekadar bersifat kunjungan, tetapi juga menjadi upaya menelusuri jejak hubungan antara kesultanan, ulama, manuskrip dan tradisi pemerintahan Islam-Melayu di kawasan pesisir Selat Melaka.
Dalam perjalanan tersebut, Rektor IAITF Dumai bersama Tim Manuskrip PIPSM yang terdiri atas Ustad Syarifudin Bin Syamsudin Al-Fahani, Al-Yamani, dan Ustad Faizarul Azwan Bin Maskan mengunjungi sejumlah situs penting yang berkaitan dengan sejarah intelektual dan politik Terengganu, yaitu Istana Kecil, makam Sultan Zainal Abidin III, serta makam ulama besar Terengganu Sayyid Abdul Rahman bin Sayyid Muhammad al-Idrus atau yang lebih dikenal sebagai Tok Ku Paloh.
Perjalanan dimulai dengan kunjungan ke kawasan yang dikenal sebagai Istana Kecil, sebuah bangunan bersejarah yang berada dalam lingkungan tradisi istana Kuala Terengganu. Tempat ini memiliki nilai penting karena dalam berbagai catatan sejarah lokal disebut sebagai salah satu lokasi pertemuan antara Sultan Zainal Abidin III dengan Tok Ku Paloh. Pertemuan antara Sultan dan ulama tersebut mencerminkan kuatnya tradisi musyawarah antara kekuasaan kerajaan dan otoritas keilmuan Islam dalam tata pemerintahan Terengganu.
Bagi rombongan IAITF dan PIPSM, keberadaan Istana Kecil membuka ruang refleksi yang lebih luas. Istana bukan semata-mata tempat kediaman keluarga diraja, tetapi juga dapat dibaca sebagai ruang intelektual dan ruang syura. Di tempat seperti inilah berbagai persoalan masyarakat, agama dan pemerintahan didiskusikan, mempertemukan kebijaksanaan seorang Sultan dengan pandangan ulama yang memiliki otoritas moral dan keagamaan.
Sultan Zainal Abidin III dikenal sebagai salah seorang Sultan Terengganu yang memiliki hubungan sangat dekat dengan kalangan ulama. Pada masa pemerintahannya, Terengganu menghadapi dinamika besar, termasuk tekanan kekuatan asing serta kebutuhan untuk memperkuat sistem pemerintahan negeri. Tradisi keilmuan Islam kemudian memainkan peranan penting dalam pembentukan watak pemerintahan tersebut.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju makam Sultan Zainal Abidin III. Suasana di kompleks pemakaman menghadirkan nuansa yang berbeda. Di hadapan makam seorang Sultan yang pernah memimpin Terengganu pada penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20 itu, rombongan mengenang kembali peran beliau dalam mempertahankan identitas dan kedaulatan negeri.
Salah satu warisan penting masa pemerintahannya adalah lahirnya Undang-Undang Bagi Diri Kerajaan Terengganu, yang dikenal dengan nama Itqān al-Mulūk bi Ta‘dīl al-Sulūk. Dokumen tersebut menjadi salah satu warisan penting dalam sejarah ketatanegaraan Melayu-Islam karena memperlihatkan bagaimana nilai Islam, tradisi pemerintahan Melayu dan semangat mempertahankan kedaulatan negeri dirumuskan ke dalam sistem hukum dan pemerintahan.
Ziarah ke makam Sultan Zainal Abidin III sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam teks dan manuskrip. Sejarah juga hidup melalui ruang, makam, bangunan, tradisi lisan dan ingatan masyarakat. Bagi Tim Manuskrip PIPSM, keseluruhan unsur tersebut menjadi sumber penting yang saling melengkapi dalam upaya merekonstruksi sejarah intelektual masyarakat Melayu.
Dari makam Sultan, perjalanan dilanjutkan menuju makam Tok Ku Paloh, ulama besar Terengganu yang memiliki pengaruh sangat kuat dalam perkembangan keagamaan, sosial dan politik negeri tersebut. Nama lengkap beliau ialah Sayyid Abdul Rahman bin Sayyid Muhammad al-Idrus, seorang ulama yang dikenal luas sebagai guru, pemimpin masyarakat sekaligus penasihat Kesultanan Terengganu.
Tok Ku Paloh merupakan figur penting dalam hubungan antara ulama dan kesultanan. Kedekatannya dengan Sultan Zainal Abidin III memperlihatkan bagaimana tradisi pemerintahan Melayu-Islam tidak sepenuhnya memisahkan antara kekuasaan politik dan otoritas keilmuan. Sultan memerlukan pandangan ulama, sementara ulama ikut memberi arah moral terhadap jalannya pemerintahan.
Di hadapan makam Tok Ku Paloh, rombongan melakukan refleksi terhadap peranan ulama Nusantara dalam membangun masyarakat. Ulama pada masa lalu bukan hanya mengajar kitab atau memimpin aktivitas keagamaan, tetapi juga terlibat dalam pendidikan, diplomasi, pembangunan sosial, pembentukan kebijakan serta usaha mempertahankan kedaulatan negeri.
Bagi Rektor IAITF, kunjungan ini memiliki makna penting dalam pengembangan riset mengenai manuskrip ulama Pesisir Selat Melaka. Banyak manuskrip Jawi yang lahir di kawasan ini tidak dapat dibaca hanya sebagai teks keagamaan semata. Di dalamnya tersimpan informasi mengenai jaringan keilmuan, pendidikan, hukum, ekonomi, politik dan hubungan antara kerajaan dengan masyarakat.
Perjalanan dari Istana Kecil menuju makam Sultan Zainal Abidin III, kemudian berakhir di makam Tok Ku Paloh, seolah menggambarkan sebuah rangkaian sejarah yang utuh: istana sebagai pusat kekuasaan, Sultan sebagai pemimpin pemerintahan, dan ulama sebagai penjaga ilmu serta moral masyarakat.
Hubungan ketiganya menjadi salah satu karakter penting peradaban Melayu-Islam di kawasan Terengganu. Dari ruang pertemuan di lingkungan istana hingga pusat pengajian para ulama, berkembang sebuah tradisi yang menempatkan ilmu sebagai bagian penting dari proses pemerintahan.
Kunjungan ini juga memperkuat agenda PIPSM dalam mengembangkan kajian mengenai sejarah, manuskrip dan warisan intelektual masyarakat Pesisir Selat Melaka. Kawasan ini sejak berabad-abad lalu merupakan jalur pertemuan ulama, pedagang, kerajaan, lembaga pendidikan dan masyarakat dari berbagai wilayah Nusantara.
Bagi IAITF Dumai, penelusuran tersebut juga memiliki hubungan erat dengan pengembangan distingsi akademik yang menempatkan kajian ulama, manuskrip Jawi dan lembaga pendidikan Islam Pesisir Selat Melaka sebagai salah satu fokus penelitian dan pengembangan keilmuan.
Kunjungan ke Terengganu pada 9 September 2026 akhirnya bukan hanya menjadi perjalanan melihat situs bersejarah. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi usaha untuk membaca kembali hubungan antara manusia, tempat dan manuskrip.
Di Istana Kecil, rombongan menemukan jejak dialog antara Sultan dan ulama. Di makam Sultan Zainal Abidin III, tersimpan ingatan mengenai kepemimpinan dan kedaulatan. Sementara di makam Tok Ku Paloh, terasa kuat warisan tradisi ilmu dan perjuangan seorang ulama.
Ketiga tempat itu menyampaikan pesan yang sama: peradaban Melayu-Islam dibangun melalui hubungan yang erat antara ilmu, kekuasaan, agama dan masyarakat.
Perjalanan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi penelitian yang lebih luas mengenai Sultan Zainal Abidin III, Tok Ku Paloh, Istana Kecil, manuskrip Terengganu, serta jaringan keilmuan Melayu-Islam yang berkembang di sepanjang pesisir Selat Melaka. Melalui kajian tersebut, warisan masa lalu tidak hanya dikenang, tetapi dapat kembali dihidupkan sebagai sumber pengetahuan bagi generasi masa kini dan masa depan.
