Dialog Santai di Selayang, Bersama Profesor Solehah Yaacob tentang Sejarah dan Manuskrip Melayu

Selayang, Selangor – 10 September 2026. Suasana santai di sebuah kafe di kawasan Selayang, Gombak, Selangor, Malaysia, menjadi ruang pertemuan ilmiah yang hangat antara Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai bersama Tim Manuskrip Persatuan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM) dengan Profesor Dr. Solehah Yaacob, akademisi Malaysia yang dikenal melalui kajiannya dalam bidang bahasa Arab, sejarah linguistik, filsafat bahasa, dan peradaban Melayu. Video Klik disini

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Rektor IAITF Dumai, Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si., M.Phil., bersama Tim Manuskrip PIPSM yang terdiri atas Ustad Syarifudin Bin Syamsudin Al-Fahani, Al-Yamani, dan Ustad Faizarul Azwan Bin Maskan. Meski berlangsung dalam suasana santai sambil menikmati hidangan di sebuah kafe, dialog berkembang menjadi diskusi akademik yang cukup mendalam mengenai sejarah Melayu, manuskrip Jawi, jaringan intelektual Islam, serta perkembangan peradaban di kawasan Pesisir Selat Melaka.

Dalam perbincangan tersebut, Profesor Solehah Yaacob berbagi pandangan mengenai pentingnya membaca sejarah Melayu tidak hanya melalui narasi politik dan kronologi kerajaan, tetapi juga melalui pendekatan bahasa, manuskrip, tradisi keilmuan, jalur perdagangan, serta hubungan antara dunia Melayu dengan pusat-pusat peradaban Islam dan peradaban dunia lainnya.

Menurutnya, manuskrip merupakan salah satu pintu penting untuk memahami bagaimana masyarakat Melayu pada masa lalu membangun pengetahuan, agama, hukum, perdagangan, pendidikan, serta hubungan sosialnya. Manuskrip bukan sekadar dokumen tua, tetapi merupakan rekaman pemikiran dan pengalaman masyarakat pada zamannya.

Diskusi juga menyentuh pentingnya bahasa Arab dan tulisan Jawi dalam pembentukan tradisi intelektual Melayu. Kehadiran kitab-kitab keagamaan, karya ulama, surat-surat kerajaan, dokumen hukum, catatan perdagangan, serta berbagai naskah lokal memperlihatkan bahwa kawasan Melayu sejak berabad-abad lalu telah terhubung dengan jaringan keilmuan yang luas.

Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar menyampaikan bahwa dialog seperti ini sangat penting bagi pengembangan distingsi akademik IAITF Dumai, khususnya dalam kajian manuskrip ulama Pesisir Selat Melaka, sejarah peradaban Melayu, serta integrasi antara pendidikan Islam, kebudayaan dan pembangunan masyarakat pesisir.

Ia memandang kawasan Selat Melaka tidak hanya sebagai jalur perdagangan internasional, tetapi juga sebagai koridor penyebaran ilmu pengetahuan, Islam, bahasa, kebudayaan dan jaringan ulama. “Selat Melaka harus kembali dibaca sebagai ruang peradaban. Di sepanjang pesisirnya terdapat kerajaan, ulama, manuskrip, pusat perdagangan, lembaga pendidikan dan tradisi masyarakat yang saling terhubung. Karena itu, kajian manuskrip harus ditempatkan dalam kerangka sejarah peradaban yang lebih luas,” ujar Rizal Akbar dalam perbincangan tersebut.

Tim Manuskrip PIPSM juga menyampaikan sejumlah temuan dan pengalaman dalam menelusuri manuskrip-manuskrip Melayu dan Jawi yang masih tersimpan di tengah masyarakat. Ustad Syarifudin Bin Syamsudin Al-Fahani, Al-Yamani menekankan pentingnya pendekatan filologis serta pemahaman terhadap tradisi keilmuan Islam dalam membaca manuskrip, terutama karena banyak naskah lama tidak dapat dilepaskan dari istilah-istilah Arab dan tradisi kitab turats.

Sementara itu, Ustad Faizarul Azwan Bin Maskan menyoroti pentingnya mendokumentasikan manuskrip yang masih berada dalam simpanan keluarga, surau, pondok, pesantren maupun koleksi pribadi masyarakat. Menurutnya, banyak manuskrip bernilai sejarah tinggi yang belum teridentifikasi, belum didigitalisasi, atau bahkan belum pernah menjadi objek penelitian akademik.

Dialog juga berkembang pada pembahasan mengenai kemungkinan pengembangan penelitian bersama yang menghubungkan linguistik Arab, manuskrip Jawi, sejarah Melayu dan peradaban maritim. Pendekatan multidisipliner dinilai penting karena sebuah manuskrip tidak cukup hanya dibaca sebagai teks, tetapi harus ditempatkan dalam konteks pengarang, masyarakat, wilayah, jaringan keilmuan dan kondisi sosial-ekonomi pada masa ketika naskah tersebut dihasilkan.

Salah satu perhatian dalam pertemuan tersebut adalah perlunya membangun basis data manuskrip Pesisir Selat Melaka yang dapat menghubungkan koleksi-koleksi manuskrip di Indonesia, Malaysia dan kawasan sekitarnya. Basis data semacam itu diharapkan dapat memuat informasi mengenai judul manuskrip, pengarang, tahun penulisan, lokasi ditemukan, pemilik atau koleksi, bidang keilmuan, bahasa, aksara, kondisi naskah serta hasil penelitian yang pernah dilakukan.

Pertemuan santai di Selayang tersebut juga membuka peluang bagi pengembangan seminar, penelitian bersama, penerbitan artikel ilmiah, katalog manuskrip, serta kegiatan akademik yang melibatkan IAITF Dumai, PIPSM dan para ilmuwan dari Malaysia.

Dalam perspektif PIPSM, kerja sama lintas negara semacam ini menjadi bagian penting dari upaya membangun kembali kesadaran mengenai Pesisir Selat Melaka sebagai satu kawasan sejarah dan peradaban yang saling terhubung, jauh sebelum terbentuknya batas-batas negara modern.

Bagi IAITF Dumai, kajian manuskrip dan peradaban Melayu juga memiliki posisi strategis dalam pengembangan keilmuan perguruan tinggi. Dumai yang berada langsung di pesisir Selat Melaka memiliki kedekatan geografis dan historis dengan berbagai pusat kebudayaan Melayu di Riau, Johor, Melaka, Selangor dan wilayah Semenanjung Malaysia lainnya.

Karena itu, dokumentasi, digitalisasi dan penelitian manuskrip diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelestarian, tetapi berkembang menjadi sumber bagi penelitian pendidikan Islam, ekonomi, hukum, sejarah, kebudayaan dan pembangunan masyarakat pesisir.

Pertemuan dengan Profesor Solehah Yaacob sekaligus memperkuat pandangan bahwa kajian sejarah Melayu membutuhkan keberanian untuk mempertemukan berbagai disiplin ilmu. Linguistik, sejarah, filologi, arkeologi, ilmu agama, ekonomi dan studi maritim dapat saling melengkapi dalam menjelaskan bagaimana peradaban Melayu berkembang dan berinteraksi dengan dunia luar.

Dialog yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban tersebut ditutup dengan semangat untuk terus memperluas jaringan akademik dan mempertemukan para peneliti yang memiliki perhatian terhadap sejarah, manuskrip dan peradaban Melayu.

Dari sebuah kafe di kawasan Selayang, Gombak, pertemuan sederhana itu membawa satu pesan penting: manuskrip Melayu bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sumber pengetahuan untuk membaca kembali perjalanan peradaban dan membangun masa depan keilmuan Pesisir Selat Melaka.

Ditulis Oleh: Lestary

Written by