TEMERLOH, PAHANG — Perjalanan ilmiah Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai, Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil., bersama Tim Manuskrip Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM), tidak hanya menjadi perjalanan penelusuran sejarah dan manuskrip Melayu, tetapi juga membuka ruang untuk mengenal lebih dekat kekayaan gastronomi masyarakat di kawasan Semenanjung Malaysia.
Rangkaian perjalanan tersebut sebelumnya diawali dengan kunjungan ilmiah dan ziarah sejarah ke Makam Tuan Tulis di Kampung Kuala Talang, Tanjung Ipoh, Kuala Pilah, Negeri Sembilan, pada Minggu, 6 September 2026. Tuan Tulis dikenal sebagai Haji Ismail bin Hussein, seorang ulama Negeri Sembilan yang masyhur karena ketekunannya menyalin dan menulis kitab. Portal resmi Majlis Daerah Kuala Pilah menyebut beliau berasal dari Kampung Kuala Talang, lahir sekitar dekade 1840-an dan wafat pada 1923. Julukan “Tuan Tulis” melekat karena kegemarannya menyalin kitab-kitab yang dipinjamnya ketika menuntut ilmu.
Setelah rangkaian kunjungan di Negeri Sembilan, pada 8 September 2026 rombongan melanjutkan perjalanan menuju Terengganu. Dalam perjalanan tersebut, rombongan menyempatkan diri singgah di Temerloh, Pahang, sebuah wilayah yang begitu kuat identitasnya dengan ikan patin dan kehidupan masyarakat Sungai Pahang.
Temerloh memang dikenal luas sebagai “Bandar Ikan Patin”. Portal pariwisata Pahang menggunakan sebutan tersebut dalam mempromosikan kawasan Temerloh, termasuk Esplanade Temerloh yang berada di tepian Sungai Pahang. Pemerintah Malaysia melalui materi promosi Tourism Malaysia juga menempatkan Temerloh sebagai destinasi kuliner yang identik dengan patin dan pengalaman menikmati masakan patin tempoyak.
Di kota inilah perjalanan ilmiah sejenak berubah menjadi sebuah perjalanan gastronomi. Rektor IAITF bersama Tim Manuskrip PIPSM singgah di Selera Patin Bangau, salah satu rumah makan di Temerloh yang berada di Jalan Kampung Baru. Informasi lokasi daring mencatat rumah makan tersebut sebagai Selera Patin Bangau, Temerloh, dengan jam operasi sekitar pukul 12.00 hingga 16.00 pada sebagian besar hari operasionalnya.
Menu yang dinikmati adalah asam pedas tempoyak ikan patin, sajian yang mempertemukan kelembutan daging patin dengan karakter asam, pedas, dan aroma khas tempoyak. Hidangan semacam ini memperlihatkan kekayaan tradisi kuliner Melayu Pahang: ikan sungai sebagai sumber pangan lokal dipadukan dengan bahan fermentasi dan rempah-rempah yang telah lama menjadi bagian dari tradisi dapur masyarakat Melayu.
Bagi rombongan IAITF dan PIPSM, singgah di Temerloh bukan sekadar berhenti untuk makan siang. Kuliner dapat dibaca sebagai bagian dari sejarah sosial masyarakat. Sungai bukan hanya jalur transportasi, melainkan juga membentuk pola ekonomi, sumber pangan, permukiman, bahkan identitas kebudayaan masyarakat di sekitarnya. Di Temerloh, hubungan tersebut sangat terlihat melalui kuatnya posisi ikan patin dalam kehidupan masyarakat.
Tradisi itu juga terlihat di Pekan Sehari Temerloh, pasar mingguan yang dikenal menjual beragam hasil lokal, termasuk ikan patin, ikan pekasam, ikan kering, sayur, buah-buahan, keropok, dan aneka makanan tradisional. Hal tersebut memperlihatkan bahwa patin bukan hanya sebuah menu restoran, tetapi bagian dari mata rantai ekonomi masyarakat setempat.
Dalam perspektif yang lebih luas, perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa penelitian sejarah Melayu dapat dilakukan melalui banyak pintu masuk. Manuskrip, makam ulama, istana, masjid, sungai, permukiman, hingga tradisi makanan merupakan fragmen-fragmen yang apabila dirangkai dapat memberikan gambaran mengenai perjalanan sebuah peradaban.
Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar memandang pengalaman kuliner seperti ini sebagai bagian menarik dari perjalanan menyusuri kawasan budaya Melayu. Dari Kuala Pilah yang menyimpan jejak intelektual Tuan Tulis, perjalanan menuju pantai timur Semenanjung kemudian mempertemukan rombongan dengan Temerloh dan Sungai Pahang, sebuah bentang kebudayaan yang memiliki tradisi ekonominya sendiri.
Asam pedas tempoyak ikan patin yang tersaji di meja akhirnya menjadi lebih dari sekadar makanan. Di dalamnya terdapat cerita tentang sungai, sumber daya alam, tradisi memasak, ekonomi lokal, dan kemampuan masyarakat mempertahankan identitas kuliner dari generasi ke generasi.
Singgah di Temerloh juga memberikan perspektif penting bagi agenda Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM). Kajian terhadap kebudayaan Melayu tidak semata-mata harus berhenti pada teks dan manuskrip. Gastronomi, kehidupan sungai, tradisi pasar, dan pola ekonomi masyarakat juga menjadi sumber pengetahuan yang dapat memperluas pemahaman mengenai peradaban Melayu.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Terengganu, membawa rombongan memasuki babak berikutnya dalam penelusuran sejarah, manuskrip, ulama, dan warisan intelektual Melayu di Pantai Timur Semenanjung Malaysia.
Ditulis Oleh: Tary
