Iaitfdumai.ac.id – DUMAI β Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Akreditasi bersama reviewer/asesor dalam rangka memperkuat kesiapan Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) menghadapi proses akreditasi, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 WIB hingga menjelang Magrib tersebut menjadi forum intensif untuk melakukan evaluasi terhadap dokumen Laporan Evaluasi Diri (LED) dan Dokumen Kinerja Program Studi (DKPS) Prodi PAI. Hal tersebut sesuai dengan pemberitahuan resmi LPM IAITF Dumai yang menyebutkan bahwa evaluasi dilakukan untuk menelaah substansi, kelengkapan, konsistensi, serta kesesuaian data dan informasi dalam dokumen dengan instrumen akreditasi yang berlaku.




FGD menghadirkan Prof. Dr. Hj. Zaitun, M.Ag. bersama Dr. Musa sebagai akademisi senior untuk memberikan masukan dalam penguatan aspek akademik dan mutu program studi. Forum ini juga diikuti oleh unsur pimpinan dan sivitas akademika IAITF Dumai.
Hadir dalam kegiatan tersebut Dr. Windayani, M.Pd.; Dr. Dawami, S.Sos., M.I.Kom.; Dr. Deni Suryanto, M.Pd.; Dr. Susiana, M.A.; Dr. Neneng Desi Susanti, S.H.I., M.Sy.; Khairul Azmi, M.E.; Dr. Wiwid Hadi Sumitro, M.Pd.; Tengku Mahesa Khalid, M.M.; Robiatul Adawiyah, M.E.; Tuti Syafrianti, M.Pd.; Eka Sukmawati, M.Ag., serta Nini Nursima, M.Pd., dan Nur Hafizah, S.Pd.
Dalam FGD tersebut, evaluasi diarahkan pada bagaimana setiap data yang dicantumkan dalam LED dan DKPS dapat menunjukkan kondisi riil program studi. Dokumen akreditasi tidak hanya diposisikan sebagai dokumen administratif, tetapi sebagai gambaran menyeluruh mengenai tata kelola, pendidikan dan pengajaran, sumber daya manusia, mahasiswa, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, luaran, serta sistem penjaminan mutu program studi.
Forum juga menjadi ruang untuk mencermati keterhubungan antara data, analisis, evaluasi, dan tindak lanjut. Setiap informasi yang dimasukkan dalam dokumen harus memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga mampu menggambarkan proses peningkatan mutu yang berlangsung secara berkelanjutan.
Ketua LPM IAITF Dumai, Dr. Dawami, S.Sos., M.I.Kom., menjadi salah satu unsur penting dalam proses evaluasi tersebut. Melalui FGD, LPM mendorong seluruh unsur yang terlibat untuk tidak sekadar mengejar kelengkapan borang, tetapi membangun budaya mutu yang tercermin dalam praktik pengelolaan program studi.
Kegiatan berlangsung secara intensif sepanjang hari. Berbagai bagian dokumen dibahas secara mendalam, disertai klarifikasi, masukan, dan penyempurnaan terhadap data maupun narasi yang perlu diperkuat. Diskusi bahkan sempat dihentikan karena terjadi pemadaman listrik setelah berlangsung sejak pagi hingga menjelang Magrib.
Keterlibatan pimpinan, fakultas, program studi, lembaga, dosen, dan tenaga kependidikan dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa proses akreditasi dipandang sebagai tanggung jawab kelembagaan, bukan hanya tanggung jawab program studi atau LPM.
Melalui FGD tersebut, IAITF Dumai terus memperkuat kesiapan Prodi PAI dalam menghadapi proses akreditasi sekaligus membangun sistem penjaminan mutu yang lebih terukur, berbasis data, dan berorientasi pada peningkatan kualitas secara berkelanjutan.
Bagi IAITF Dumai, akreditasi bukan sekadar pencapaian nilai, tetapi momentum untuk memastikan bahwa seluruh proses akademik dan tata kelola benar-benar berjalan, terdokumentasi, dievaluasi, dan ditindaklanjuti untuk menghasilkan mutu pendidikan yang lebih baik.
Nini Nursima
