Keynote Speaker Seminar Internasional, Rektor IAITF Dumai Bahas Empat Naskah Utama Kesultanan Siak

Iaitfdumai.ac.idSIAK – Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai sekaligus Sekretaris Jenderal Perhimpunan Ilmuan Pesisir Selat Melaka (PIPSM), Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Rizal Akbar, S.Si., M.Phil., menjadi salah satu keynote speaker dalam Seminar Internasional Budaya Melayu Pesisir Selat Melaka bertajuk “Bāb al-Qawā‘id dan Kesultanan Islam Nusantara” yang diselenggarakan secara hybrid pada Rabu, 12 Agustus 2026, di Ruang Raja Indra Pahlawan Lantai 2, Kantor Bupati Siak.

Seminar tersebut diselenggarakan oleh IAITF Dumai melalui kolaborasi bersama Perhimpunan Ilmuan Pesisir Selat Melaka (PIPSM), LAMR Kabupaten Siak, Pemerintah Kabupaten Siak, Universiti Teknologi MARA (UiTM), DMDI International College Malaysia, serta STAI Sulthan Syarif Hasyim Siak. Kegiatan ini mempertemukan akademisi, pemerintah daerah, tokoh adat, ulama, mahasiswa, serta mitra perguruan tinggi dari Indonesia dan Malaysia untuk membahas khazanah Islam, budaya Melayu, sejarah kesultanan, dan perkembangan intelektual di kawasan Pesisir Selat Melaka.

Seminar mendapat antusiasme baik secara luring maupun daring. Kegiatan dihadiri mahasiswa KKN IAITF Dumai, mahasiswa STAI Sulthan Syarif Hasyim Siak, para tamu undangan, serta peserta dari berbagai kalangan. Partisipasi melalui Zoom Meeting tercatat mencapai 444 peserta, menunjukkan tingginya perhatian terhadap kajian budaya Melayu Pesisir Selat Melaka.

Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Rizal Akbar menyampaikan keynote bertajuk “Dokumen-Dokumen Penting Peninggalan Kerajaan Siak”. Dalam paparannya, ia mengangkat empat naskah utama yang dinilai penting untuk membaca perjalanan Kesultanan Siak Sri Indrapura, yaitu Hikayat Siak, Syair Raja Siak, Syair Perang Siak, dan Bāb al-Qawā‘id.

Menurut Muhammad Rizal Akbar, keempat dokumen tersebut tidak hanya dapat dipandang sebagai peninggalan sastra dan sejarah, tetapi membentuk satu korpus penting untuk membaca Siak sebagai kerajaan Melayu-Islam. Keempatnya membuka ruang untuk merekonstruksi peradaban Siak secara lebih utuh, mencakup sastra, sejarah, hukum, politik, ekonomi, adat, dan Islam.

Dalam paparannya, Hikayat Siak ditempatkan sebagai fondasi historiografi kerajaan karena merekam asal-usul dan perkembangan Kesultanan Siak, memperkuat memori mengenai Raja Kecil dan kesinambungan dinasti, serta menghadirkan sejarah dalam bentuk prosa Melayu klasik. Naskah ini juga menjadi pintu masuk untuk membandingkan fakta, mitos, dan politik ingatan dalam sejarah kerajaan.

Sementara itu, Syair Raja Siak dapat ditempatkan sebagai teks dinasti yang menjaga ingatan mengenai raja-raja, urutan kekuasaan, dan marwah kerajaan. Melalui naskah tersebut, kekuasaan Melayu dapat dilihat tidak hanya sebagai sesuatu yang diwariskan melalui garis keturunan, tetapi juga dikisahkan, dirawat, dan disahkan melalui teks.

Adapun Syair Perang Siak merekam pergulatan dinasti, konflik, perang, serta hubungan kekuasaan Siak dengan Belanda. Karena itu, naskah tersebut memiliki nilai penting tidak hanya dalam kajian sastra, tetapi juga sebagai sumber untuk membaca konflik politik dan memori istana.

Perhatian khusus dalam keynote tersebut diarahkan pada Bāb al-Qawā‘id, yang membawa pembacaan terhadap Kesultanan Siak pada aspek tata pemerintahan. Berbeda dengan hikayat dan syair yang banyak merekam memori, dinasti, serta konflik, Bāb al-Qawā‘id memperlihatkan bagaimana kerajaan mengatur jabatan, wilayah, persidangan, hukum, protokol, dan tata kelola pejabat.

Materi tersebut juga menunjukkan bahwa struktur pemerintahan yang tergambar dalam Bāb al-Qawā‘id mencakup Sultan, majelis, serta pejabat pusat dan daerah. Dalam aspek peradilan terdapat hakim, tata sidang, dan musyawarah, sementara hubungan adat dan Islam tercermin melalui keberadaan imam, penghulu, dan kepala suku. Pengaturan protokol kerajaan juga terlihat melalui aspek gelar, pakaian, dan tata tempat.

Muhammad Rizal Akbar kemudian menghubungkan keempat naskah tersebut dalam satu rangkaian perjalanan transformasi peradaban Kesultanan Siak, mulai dari Raja Kecil dan asal-usul, pembentukan dinasti dan legitimasi, konflik dan perebutan kekuasaan, konsolidasi kerajaan, hingga kodifikasi Bāb al-Qawā‘id pada 1901.

Pembacaan tersebut memperlihatkan bahwa keempat naskah dapat ditempatkan sebagai satu kesatuan yang menggambarkan perjalanan Siak dari memori kerajaan menuju pelembagaan pemerintahan. Hikayat dan syair memberikan gambaran mengenai memori, dinasti, legitimasi, dan konflik, sedangkan Bāb al-Qawā‘id memperlihatkan bagaimana kekuasaan kemudian diatur melalui tata pemerintahan, hukum, peradilan, adat, dan protokol kerajaan.

Kajian terhadap dokumen-dokumen tersebut sekaligus membuka ruang pengembangan penelitian multidisipliner mengenai Kesultanan Siak dan peradaban Melayu-Islam. Naskah-naskah tersebut dapat menjadi sumber kajian dalam bidang sejarah, sastra, hukum, pemerintahan, politik, adat, Islam, dan kebudayaan Melayu.

Materi keynote mencantumkan sejumlah sumber dan rujukan awal, di antaranya Bāb al-Qawā‘id cetakan Kerajaan Siak Sri Indrapura tahun 1901, transkripsi dan pengantar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1983, kajian Muhammad Yusoff Hashim mengenai Hikayat Siak, serta kajian David J. Goudie mengenai Syair Perang Siak.

Selain Muhammad Rizal Akbar, keynote speaker dalam seminar tersebut adalah Prof. Dr. S. Salahuddin Suyurno, Presiden PIPSM. Forum juga menghadirkan sejumlah narasumber dari Indonesia dan Malaysia, antara lain Ustaz Ahmad Syarifuddin, S.H. dari Pascasarjana IAITF Dumai, Prof. Dr. Hj. R.A. Huzaifah Dato’ Hasim, S.E. dari DMDI International College Malaysia, Dr. Azizur Rahman Ramli dari Universiti Teknologi MARA Cawangan Johor, Datuk Seri Drs. H. Arfan Usman, M.Pd. dari LAMR Kabupaten Siak, serta Dr. M. Hatta, M.Pd. dari STAI Sulthan Syarif Hasyim Siak.

Kehadiran Muhammad Rizal Akbar sebagai keynote speaker sekaligus Sekretaris Jenderal PIPSM memperkuat posisi IAITF Dumai dalam membangun ruang akademik yang menghubungkan kajian Islam, budaya Melayu, sejarah kesultanan, dan jaringan intelektual kawasan Pesisir Selat Melaka.

Melalui forum internasional tersebut, kajian terhadap peninggalan Kesultanan Siak tidak hanya ditempatkan sebagai upaya memahami sejarah masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan khazanah keilmuan Islam dan budaya Melayu yang dapat terus dikaji, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Penulis: Nini Nursima

Written by