Iaitfdumai.ac.id – Melaka, 23 Juli 2026 – Memasuki hari keempat pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Khazanah Islam Pesisir Selat Melaka (KIPSM) 2026, peserta Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai mengikuti rangkaian kegiatan yang memadukan pembelajaran sejarah, penguatan spiritual, serta pendalaman riset lapangan sebagai bagian dari penyusunan buku Khazanah Islam Pesisir Selat Melaka edisi kedua.








Kegiatan diawali dengan Shalat Subuh berjamaah di Masjid Kampung Hulu. Meskipun sejak dini hari Kota Melaka diguyur hujan lebat sehingga jadwal sedikit mengalami penyesuaian, semangat seluruh peserta tidak surut. Briefing yang semula dijadwalkan setelah ziarah terlebih dahulu dilaksanakan di Masjid Kampung Hulu dan dipimpin oleh Dr. (Cand.) Dawami, S.Sos., M.I.Kom. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya mengoptimalkan hasil observasi lapangan sebagai bahan utama penulisan buku sehingga setiap bab yang disusun memiliki kekuatan data, nilai historis, dan kontribusi ilmiah terhadap kajian Khazanah Islam Pesisir Selat Melaka.










Setelah cuaca membaik, rombongan melanjutkan agenda ziarah ilmiah yang dipimpin langsung oleh Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Rizal Akbar, S.Si., M.Phil., Rektor IAITF Dumai. Selama perjalanan, rombongan didampingi oleh Ahmad Syarifuddin, mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Agama Islam IAITF Dumai yang juga merupakan salah seorang tokoh masyarakat di Melaka. Melalui penjelasannya, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai sejarah perkembangan Islam, tokoh-tokoh ulama, serta peradaban Melayu di negeri bersejarah tersebut.










Rangkaian ziarah diawali di Makam Habib Abdullah yang berada di kawasan Masjid Kampung Hulu, salah satu pusat penyebaran dakwah Islam di Melaka. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Makam Syekh Syamsuddin As-Sumatrani di Kampung Ketek. Syekh Syamsuddin dikenal sebagai ulama besar Nusantara asal Aceh yang pernah menjadi Mufti Kesultanan Aceh Darussalam dan memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran Islam di kawasan Melayu.
Destinasi berikutnya adalah Makam Hang Jebat, salah satu tokoh legendaris Kesultanan Melaka yang hingga kini dikenang sebagai simbol keberanian dan semangat perjuangan dalam sejarah Melayu. Di setiap lokasi, peserta tidak hanya berziarah, tetapi juga memperoleh penjelasan mengenai nilai sejarah, hubungan intelektual antara Melaka dan Nusantara, serta keterkaitan erat kawasan pesisir Selat Melaka sebagai pusat peradaban Islam pada masa lampau.
Rektor IAITF Dumai, Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Rizal Akbar, S.Si., M.Phil., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang menjadi ciri khas KKN Internasional IAITF Dumai.
“KKN ini bukan sekadar perjalanan akademik, tetapi kesempatan untuk menelusuri jejak peradaban Islam Melayu secara langsung. Dari tempat-tempat bersejarah inilah mahasiswa belajar memahami bagaimana dakwah, keilmuan, dan budaya berkembang di kawasan Selat Melaka. Pengalaman ini diharapkan memperkaya wawasan sekaligus menjadi bahan ilmiah dalam penyusunan buku Khazanah Islam Pesisir Selat Melaka,” ungkap beliau.
Usai kegiatan ziarah, peserta kembali melaksanakan diskusi kelompok sesuai pembagian bab penulisan buku. Setiap kelompok menyampaikan perkembangan penulisan, mendiskusikan temuan lapangan, serta menyusun strategi penyempurnaan naskah agar menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas dan memiliki kontribusi terhadap pengembangan kajian Islam Melayu.
Kegiatan hari keempat turut dihadiri oleh jajaran pimpinan dan dosen pendamping IAITF Dumai, Muhammad Farid Firdaus, M.H. selaku Ketua LP2M, Dr. Deni Suryanto, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah, Dr. Wiwid Hadi Sumitro, S.Pd.I., M.Pd., Kasnan, S.H., M.H., Dr. (Cand.) Dawami, S.Sos., M.I.Kom., Dr. Faizal, H. Anshori, serta tenaga kependidikan IAITF Dumai yang terus mendampingi seluruh rangkaian kegiatan.
Salah seorang peserta KKN, Reza Fahlevi, mengaku sangat menikmati pengalaman pada hari itu.
“Hari ini benar-benar seru. Kami tidak hanya berziarah, tetapi juga belajar langsung sejarah Islam dan tokoh-tokoh besar Melayu di Melaka. Penjelasan yang kami dapatkan membuat kami lebih memahami hubungan erat antara Indonesia dan Malaysia dalam sejarah peradaban Islam. Pengalaman seperti ini tentu tidak kami peroleh hanya dari belajar di ruang kelas,” ujarnya.
Melalui kegiatan pada hari keempat ini, IAITF Dumai kembali menegaskan komitmennya dalam mengembangkan distingsi Khazanah Islam Pesisir Selat Melaka melalui pembelajaran yang mengintegrasikan sejarah, budaya, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Pengalaman tersebut diharapkan tidak hanya memperkaya wawasan akademik mahasiswa, tetapi juga melahirkan karya ilmiah yang mampu menjadi referensi dalam pengembangan studi Islam dan tamadun Melayu di kawasan Asia Tenggara.
Penulis : Nini Nursima
