DUMAI – Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai, Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil., kembali menghadirkan karya sastra bernuansa Islam-Melayu melalui pembaharuan Syair Tafaqquh Fiddin pada 10 Oktober 2026. Syair yang pertama kali dikarang pada 12 Maret 2021 tersebut memuat pesan mendalam tentang pendidikan Islam, kesinambungan dakwah, pembentukan generasi berilmu, serta tanggung jawab perguruan tinggi dalam membangun peradaban masyarakat Melayu pesisir Selat Melaka.
Karya yang terdiri atas 12 bait dan 48 larik ini tidak hanya menjadi ekspresi kesusastraan, tetapi juga mencerminkan pandangan filosofis mengenai peranan IAITF Dumai sebagai institusi pendidikan Islam yang berakar pada tradisi keilmuan dan kebudayaan Melayu. Melalui susunan bahasa yang bernuansa religius, pengarang menghubungkan nilai tauhid, akhlak, sanad keilmuan, identitas daerah, dan pembangunan masa depan dalam satu kesatuan pemikiran.
Syair tersebut dimulai dengan pujian kepada Allah SWT dan selawat kepada Rasulullah SAW, kemudian dilanjutkan dengan penegasan bahwa Tafaqquh Fiddin merupakan bagian dari kesinambungan dakwah dan pewarisan ilmu pengetahuan. Salah satu baitnya berbunyi:
“Tafaqquh Fiddin, Penyambung dakwah
Dari Rasul, terus kebawah
Sanad dijaga setinggi marwah
Diwariskan pula pada yang amanah”
Bait tersebut mengandung pesan tentang pentingnya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam. Ilmu bukan semata-mata pengetahuan yang diperoleh melalui proses pembelajaran formal, melainkan amanah yang harus dipelihara, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya dengan penuh tanggung jawab.
Mengangkat Marwah Melayu Pesisir Selat Melaka
Salah satu kekuatan Syair Tafaqquh Fiddin terletak pada keterhubungannya dengan identitas geografis dan kebudayaan Melayu. Pengarang secara khusus menempatkan Kota Dumai dan kawasan pesisir timur Selat Melaka sebagai ruang tumbuhnya pendidikan Islam dan pembangunan peradaban.
“Sempadan Timur Selat Melaka
Disana tempatnya Kampus dibuka
Di Kota Dumai, Bandar Terkemuka
Jadi harapan di hari muka”
Penyebutan Selat Melaka memiliki makna lebih luas daripada sekadar penunjuk wilayah. Secara historis, kawasan ini dikenal sebagai salah satu jalur penting perdagangan, penyebaran Islam, pertukaran budaya, dan perkembangan intelektual masyarakat Melayu-Nusantara.
Melalui syair tersebut, IAITF Dumai diposisikan bukan hanya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang melaksanakan kegiatan akademik, tetapi juga sebagai bagian dari mata rantai pembangunan peradaban Islam-Melayu yang mempunyai tanggung jawab menjaga marwah dan mengembangkan potensi masyarakat pesisir.
Pesan itu semakin diperkuat melalui ungkapan “Sebagai persembahan anak negeri, Menyolek kampung dan marwah diri, Tamaddun Islam yang Hadhari.” Ungkapan tersebut menggambarkan harapan agar keberadaan perguruan tinggi mampu memperindah wajah daerah, meningkatkan martabat masyarakat, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan peradaban.
Membangun Ilmuwan yang Mampu Menghadapi Perubahan Zaman
Selain berbicara mengenai sejarah dan identitas, Syair Tafaqquh Fiddin juga mengandung pandangan yang relevan dengan tantangan pendidikan tinggi masa kini. Pengarang menegaskan pentingnya membangun generasi ilmuwan yang mampu memahami perubahan zaman tanpa kehilangan nilai dan prinsip kehidupan.
Pesan tersebut tergambar dalam bait berikut:
“Karenah zaman jangan dilawan
Dan jangan pula hidup tertawan
Maka hendaklah jadi ilmuwan
Supaya Nampak musuh dan kawan”
Bait ini dapat dimaknai sebagai ajakan untuk tidak bersikap tertutup terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga tidak membiarkan manusia kehilangan kemandirian berpikir akibat perubahan tersebut.
Dalam konteks pendidikan tinggi, pemikiran ini menjadi relevan ketika perguruan tinggi dihadapkan pada perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, transformasi ekonomi, dan perubahan sosial yang semakin cepat. Perguruan tinggi Islam dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, beradaptasi, serta menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan masyarakat.
Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Dunia sebagai Landasan Pendidikan
Gagasan filosofis lainnya terdapat pada bait kesebelas yang menekankan pentingnya keterpaduan antara ilmu agama dan ilmu dunia.
“Ilmu agama bagaikan pelita
Ilmu dunia harus diserta
Sebagai penyuluh alam semesta
Supaya hidup tidak gelap gulita”
Bait ini dapat dipahami sebagai pernyataan mengenai pentingnya pendidikan yang tidak membangun pemisahan kaku antara pengetahuan keagamaan dan ilmu pengetahuan umum.
Ilmu agama memberikan landasan nilai, etika, dan orientasi spiritual, sedangkan ilmu pengetahuan umum memberikan kemampuan untuk memahami berbagai persoalan kehidupan serta mengembangkan solusi bagi kebutuhan masyarakat.
Pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan pengembangan pendidikan Islam yang integratif, terutama dalam menghadapi persoalan pembangunan ekonomi, lingkungan, teknologi, tata kelola pemerintahan, dan transformasi sosial.
Dengan demikian, pendidikan tinggi Islam diharapkan tidak berhenti pada pengajaran teori keagamaan, tetapi juga mampu melahirkan ilmuwan, cendekiawan, dan profesional yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan kemampuan akademik dan keterampilan praktis.
Syair sebagai Warisan Intelektual dan Identitas IAITF Dumai
Pembaharuan Syair Tafaqquh Fiddin pada 10 Oktober 2026 dapat dimaknai sebagai upaya memperkuat narasi identitas kelembagaan melalui pendekatan kesusastraan Islam-Melayu. Karya ini menjadi pengingat bahwa sebuah perguruan tinggi tidak hanya dibangun melalui sarana fisik, kurikulum, dan penyelenggaraan pendidikan, tetapi juga melalui gagasan, nilai, tradisi, dan cita-cita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Bagi IAITF Dumai yang memiliki perjalanan kelembagaan sejak tahun 1999, syair tersebut dapat menjadi salah satu bentuk ekspresi intelektual dalam merefleksikan tujuan pendiriannya, yakni membangun generasi yang berpengetahuan, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Lebih jauh, karya ini memiliki potensi untuk diperkenalkan dalam berbagai kegiatan akademik dan kebudayaan, termasuk penyambutan mahasiswa baru, peringatan hari jadi kampus, forum ilmiah, serta kegiatan pelestarian sastra dan manuskrip Melayu.
Menjadikan Ilmu sebagai Pelita Peradaban
Pada bagian akhir, pengarang menutup syair dengan pengharapan kepada Allah SWT, menegaskan bahwa seluruh kegiatan keilmuan dan pembangunan pada hakikatnya merupakan bagian dari pengabdian manusia kepada Sang Pencipta.
Secara keseluruhan, Syair Tafaqquh Fiddin menghadirkan pesan bahwa kemajuan sebuah perguruan tinggi semestinya diukur bukan hanya dari capaian akademik dan pembangunan institusional, melainkan juga dari kemampuannya menjaga kesinambungan ilmu, membangun akhlak, mengangkat martabat masyarakat, dan memberikan manfaat bagi peradaban.
Melalui karya ini, Rektor IAITF Dumai menghadirkan sebuah refleksi pendidikan yang mempertemukan warisan keilmuan Islam, kebudayaan Melayu, dan tantangan masa depan.
Dari pesisir Selat Melaka, Tafaqquh Fiddin meneguhkan cita-cita membangun generasi berilmu, beradab, dan berkontribusi bagi kemajuan peradaban Islam.
ditulis oleh : Lestary
