Esai Ditulis Oleh : Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil
Manuskrip lama sering menyimpan informasi kecil yang justru membuka jalan menuju pembacaan sejarah yang lebih luas. Salah satu contoh menarik terdapat dalam manuskrip MSS 1536, sebuah surat resmi dari Sultan Zainal Abidin III Terengganu kepada pejabat Inggris di Singapura. Naskah tersebut tersimpan dalam koleksi Perpustakaan Negara Malaysia dan memperlihatkan karakter khas surat diraja Melayu: penggunaan aksara Jawi, bahasa diplomatik, mohor kerajaan, serta penanggalan Hijriah. Pada bagian surat ini, Singapura tidak sekadar disebut sebagai tempat tujuan surat, tetapi diberi predikat yang sangat menarik, yaitu “Darul Makmur wal Masyhur”.
Ungkapan ini layak mendapat perhatian khusus karena memperlihatkan bagaimana Singapura diposisikan dalam bahasa politik dan kebudayaan Melayu awal abad ke-20. Istilah darul berasal dari bahasa Arab dār, yang berarti negeri, wilayah, atau tempat kediaman. Sementara itu, makmur menunjukkan keadaan yang berkembang, ramai, sejahtera, atau subur, sedangkan masyhur berarti terkenal atau termasyhur. Dengan demikian, secara maknawi, “Darul Makmur wal Masyhur” dapat dipahami sebagai “negeri yang makmur lagi termasyhur.”
Predikat ini bukan sekadar pemanis bahasa. Dalam tradisi persuratan Melayu, penamaan suatu negeri sering membawa dimensi simbolik. Sebuah tempat dapat disebut bukan hanya berdasarkan nama geografisnya, tetapi juga melalui sifat-sifat yang menunjukkan kemuliaan, kemakmuran, keamanan, atau kebesarannya. Karena itu, penyebutan Singapura sebagai “Darul Makmur wal Masyhur” dapat dibaca sebagai bagian dari bahasa kehormatan dalam diplomasi Melayu.
Yang menarik adalah konteks waktunya. Manuskrip MSS 1536 berasal dari awal abad ke-20, ketika Singapura telah berkembang sebagai pusat perdagangan, pelayaran, administrasi, dan komunikasi yang sangat penting di kawasan. Dalam naskah itu, Singapura muncul bukan hanya sebagai pusat kolonial Inggris, tetapi sebagai sebuah negeri yang dikenali melalui kosa kata Melayu-Islam. Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan istana Melayu, ruang politik modern dan kolonial tetap dibaca melalui bahasa budaya yang telah lama berkembang di dunia Melayu.
Di sinilah letak makna historis predikat tersebut. Singapura memang berada dalam struktur pemerintahan kolonial Inggris, tetapi dalam surat seorang Sultan Melayu, ia tetap digambarkan dengan bahasa yang berakar pada tradisi Islam dan Melayu. Artinya, bahasa kolonial tidak sepenuhnya menggantikan bahasa politik Melayu. Bahkan ketika seorang Sultan berhubungan dengan pejabat Inggris, bentuk surat, aksara, mohor, sapaan, dan penamaan tempat masih mengikuti tata dunia Melayu-Islam.
MSS 1536 dengan demikian memperlihatkan dua lapisan kekuasaan yang berjalan berdampingan. Di satu sisi terdapat kekuasaan kolonial Inggris yang hadir melalui pejabat di Singapura. Di sisi lain terdapat dunia kerajaan Melayu yang masih memelihara sistem simbolik, bahasa, dan tata diplomasi sendiri. Singapura menjadi titik temu antara keduanya.
Predikat “Darul Makmur wal Masyhur” juga dapat dipahami sebagai cerminan terhadap posisi Singapura dalam jaringan ekonomi dan perdagangan. Kata makmur memberi kesan bahwa Singapura dilihat sebagai tempat yang ramai, hidup, dan berkembang. Sementara itu, kata masyhur menandakan reputasi yang luas. Dalam konteks ini, predikat tersebut mencerminkan persepsi tentang Singapura sebagai pusat yang dikenal luas dalam jaringan perdagangan dan komunikasi kawasan.
Lebih jauh lagi, ungkapan tersebut dapat membuka pembacaan baru mengenai toponimi Islam dalam dunia Melayu. Banyak kerajaan dan negeri Melayu menggunakan gelar dengan unsur Darul, yang menunjukkan pengaruh kuat bahasa Arab dan Islam dalam pembentukan identitas politik. Istilah seperti Darul Iman, Darul Makmur, Darul Ta‘zim, dan berbagai bentuk lain memperlihatkan bahwa sebuah negeri tidak hanya diberi nama, tetapi juga diberi karakter moral dan simbolik.
Dalam konteks MSS 1536, Singapura tampaknya ditempatkan dalam tradisi penamaan semacam ini. Namun perlu ditegaskan bahwa dari satu manuskrip ini saja, kita belum dapat memastikan apakah “Darul Makmur wal Masyhur” merupakan gelar resmi Singapura, gelar yang umum digunakan dalam banyak surat Melayu, atau hanya formula kehormatan khusus dalam surat Sultan Zainal Abidin III. Manuskrip ini mendukung bahwa ungkapan tersebut digunakan untuk Singapura dalam dokumen ini, tetapi untuk menyatakan status yang lebih luas, diperlukan perbandingan dengan surat-surat Melayu lain dari periode yang sama.
Justru di sinilah nilai penelitian berikutnya. Jika ungkapan serupa ditemukan dalam surat dari Johor, Riau-Lingga, Pahang, Siak, atau kerajaan Melayu lainnya, maka kita mungkin sedang menemukan suatu tradisi penamaan Singapura yang selama ini kurang diperhatikan. Sebaliknya, jika hanya muncul dalam lingkungan Terengganu, maka hal itu tetap penting karena menunjukkan cara khusus istana Terengganu memandang Singapura.
Manuskrip MSS 1536 juga memberi pelajaran bahwa sejarah Singapura tidak hanya dapat dibaca dari arsip kolonial Inggris. Ia juga perlu dibaca dari sumber-sumber Melayu. Surat-surat Jawi menghadirkan sudut pandang berbeda. Mereka menunjukkan bagaimana kerajaan Melayu memahami Singapura, bagaimana mereka menyebutnya, dan bagaimana mereka menempatkannya dalam peta politik dan budaya kawasan.
Karena itu, sebutan “Darul Makmur wal Masyhur” dapat dipandang sebagai jendela kecil menuju cara pandang dunia Melayu terhadap Singapura. Dalam satu ungkapan singkat, terkandung gambaran tentang kemakmuran, kemasyhuran, dan kedudukan Singapura sebagai pusat penting di kawasan.
Pada akhirnya, MSS 1536 memperlihatkan bahwa Singapura tidak hanya hadir sebagai pelabuhan atau pusat kolonial, tetapi juga sebagai bagian dari ruang imajinasi politik dan kebudayaan Melayu-Islam. Penyebutan “Darul Makmur wal Masyhur” menunjukkan bahwa bahasa Melayu-Jawi mampu memberi makna sendiri terhadap tempat yang berada di bawah kekuasaan kolonial. Dengan demikian, manuskrip ini bukan hanya merekam sebuah surat diplomatik, tetapi juga merekam cara sebuah peradaban memandang ruang, kekuasaan, dan kemasyhuran.
Dari pembacaan ini, Singapura dapat dipahami bukan hanya sebagai kota penting dalam jaringan kolonial, tetapi juga sebagai negeri yang diakui kemakmuran dan kemasyhurannya dalam tradisi persuratan Melayu. Predikat “Darul Makmur wal Masyhur” menjadikan MSS 1536 sebuah sumber yang sangat menarik untuk kajian sejarah Singapura, diplomasi Melayu, toponimi Islam, dan sejarah intelektual kawasan Pesisir Selat Melaka.
