Iaitfdumai.ac.id – DUMAI – Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai menerima kunjungan Kepala SMP Negeri 4 Dumai, Andi Effendi, S.Si., M.Si., bersama tim dan Pak Dayat selaku IT Developer, pada Kamis sore, 24 September 2026, sekitar pukul 15.00 WIB. Pertemuan tersebut membahas inovasi Sistem Indeks Karakteristik Siswa Beradab (IKSB) yang dikembangkan SMP Negeri 4 Dumai sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk memperkuat landasan akademik, instrumen pengukuran, serta implementasinya di lingkungan sekolah.
Pertemuan berlangsung bersama Rektor IAITF Dumai Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Rizal Akbar, S.Si., M.Phil., Ketua SPI Hj. Lestary Fitriany, M.E., Dr. Deni Suryanto, M.Pd., Dr. Dawami, S.Sos., M.I.Kom., Dr. Susiana, M.A., Dr. Neneng Desi Susanti, S.H.I., M.Sy., Tuti Syafrianti, M.Pd., serta tenaga kependidikan Nini Nursima, M.Pd. Kehadiran unsur pimpinan dan akademisi dari berbagai bidang tersebut diarahkan untuk memberikan perspektif terhadap konsep, variabel, indikator, dan instrumen yang digunakan dalam aplikasi.










Sistem IKSB merupakan inovasi SMP Negeri 4 Dumai yang diarahkan untuk memotret perkembangan adab dan karakter siswa secara lebih komprehensif. Berdasarkan pemaparan tim pengembang, sistem tersebut tidak hanya bertumpu pada pengamatan di sekolah, tetapi mencoba menghubungkan tiga lingkungan utama pembentukan siswa, yaitu keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Aplikasi juga dirancang agar perkembangan siswa dapat dipantau secara lebih berkelanjutan, termasuk dengan melibatkan orang tua dalam proses pemantauan.
Dalam diskusi, Rektor IAITF Dumai menilai pengembangan model seperti IKSB relevan dengan perubahan sosial yang berlangsung cepat dan tantangan pendidikan generasi muda. Menurutnya, inovasi tersebut perlu terus berjalan, tetapi pengembangan aplikasinya harus dibarengi dengan penguatan kerangka berpikir akademik agar konstruk yang digunakan benar-benar mampu menggambarkan adab yang hendak diukur.
“Apakah faktor yang kita masukkan sudah mewajahkan adab? Karena itu perlu dimensi dan indikator adab yang dapat diukur secara pasti dan secara akademik. Harus jelas struktur ini sebenarnya mengukur apa, mengapa adab yang dipilih, bagaimana struktur adab, serta apa perbedaannya dengan perilaku,” ujar Muhammad Rizal Akbar dalam diskusi tersebut.
Dr. Dawami, S.Sos., M.I.Kom. turut menyoroti tantangan ketika konsep seperti adab, akhlak, dan moral yang selama ini lebih banyak dipahami dan dirasakan secara kualitatif hendak diterjemahkan menjadi nilai terukur. Karena itu, menurutnya, keberadaan variabel, indikator, dan instrumen menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem. Ia mendorong agar aplikasi tetap dijalankan sembari terus disempurnakan berdasarkan pengalaman implementasi dan temuan akademik.
Pandangan serupa disampaikan Dr. Deni Suryanto, M.Pd. Menurutnya, pengembangan instrumen sebaiknya diperkuat melalui penelitian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi adab siswa sehingga model yang dibangun memiliki pijakan ilmiah yang lebih kuat. Ia juga mengingatkan perlunya ketepatan dalam membedakan dimensi adab, akhlak, maupun konsep lain yang berdekatan agar instrumen tidak mengukur konstruk yang berbeda dari tujuan awalnya.
Diskusi tersebut kemudian berkembang menjadi rencana tindak lanjut yang lebih konkret. Sambil aplikasi IKSB tetap berjalan, dosen IAITF Dumai direncanakan turun langsung ke SMP Negeri 4 Dumai untuk melakukan pemetaan dan kajian lapangan terhadap populasi siswa yang berjumlah sekitar 800 orang. Kegiatan ini diarahkan untuk memperoleh gambaran empiris mengenai persoalan yang dihadapi siswa, faktor-faktor yang memengaruhinya, serta variabel dan indikator yang tepat untuk digunakan dalam pengukuran adab.
Keterlibatan dosen IAITF Dumai tersebut direncanakan menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat berbasis keilmuan, dengan pendekatan yang menghubungkan kebutuhan nyata sekolah dan kapasitas akademik perguruan tinggi. Hasil kajian lapangan diharapkan dapat menjadi dasar untuk mendiskusikan kembali konstruk, variabel, indikator, hingga instrumen pengukuran sehingga pengembangan aplikasi tidak hanya bertumpu pada kebutuhan praktis, tetapi juga memiliki dasar empiris dan akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kolaborasi ini sekaligus memperlihatkan ruang pengabdian perguruan tinggi yang tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan, tetapi dapat berbentuk pendampingan terhadap inovasi yang lahir dari masyarakat dan satuan pendidikan. Dalam konteks IKSB, SMP Negeri 4 Dumai tetap menjadi pengembang dan pelaksana inovasi, sementara IAITF Dumai mengambil peran akademik melalui kajian, pengukuran lapangan, serta pendampingan penyempurnaan model sesuai bidang keilmuan yang relevan.
Pertemuan tersebut belum menempatkan sistem IKSB sebagai model yang telah final. Sebaliknya, aplikasi akan terus dikembangkan, sementara aspek konseptual serta instrumennya didalami melalui proses akademik. Pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan sistem pengukuran yang semakin relevan dengan realitas siswa dan mampu membaca proses pembentukan adab melalui keterhubungan keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Bagi IAITF Dumai, rencana tindak lanjut bersama SMP Negeri 4 Dumai menjadi bagian dari penguatan hubungan perguruan tinggi dengan satuan pendidikan di Kota Dumai melalui kegiatan pengabdian yang berangkat dari persoalan nyata. Temuan dari lapangan nantinya akan menjadi bahan penting untuk menentukan arah pendampingan berikutnya sekaligus menyempurnakan model pengukuran agar dapat digunakan secara lebih terukur, kontekstual, dan berbasis kajian ilmiah.
