Pangeran yang Ditakuti Istana: Sayid Zain, Tunku Pangeran Kesuma Dilaga, dan Politik Siak–Raffles 1810–1811

Esai disusun Oleh: Tim Manuskrip IAITF (Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil, Ustad Syarifudin Bin Syamsudin Al-Fahani, Al-Yamani, dan Ustad Faizarul Azwan Bin Maskan)

Sepintas, kata “Pangeran” dalam Manuskrip warkah Sultan Abdul Jalil Khaliluddin dari Siak kepada Thomas Stamford Raffles, bertarikh 24 Muharram 1226 H atau 18 Februari 1811, tampak seperti sebutan umum untuk seorang bangsawan. Akan tetapi, setelah surat itu dibaca bersama korespondensi Siak lain dari akhir 1810 hingga awal 1811, identitas tokoh tersebut menjadi jauh lebih jelas. “Pangeran” itu hampir pasti adalah Tunku Pangeran Kusuma/Kesuma Dilaga, juga disebut Sukma atau Sakam Dilaga, dikenal sebagai Pangeran Perca, dan dalam korespondensi lain disebut Sayid Zain. Edisi Letters of Sincerity bahkan secara eksplisit menyebut bahwa Tunku Pangeran Kusuma atau Sakam Dilaga, yang dijuluki Pangeran Perca, adalah orang yang juga dikenal dengan nama Sayid Zain.

Identifikasi ini penting karena mengubah cara kita membaca surat Siak 1811. Warkah itu ternyata bukan sekadar surat diplomatik antara Sultan Siak dan Raffles, melainkan bagian dari sebuah konflik elite internal Kesultanan Siak yang kemudian bersinggungan langsung dengan strategi politik Inggris. Di satu pihak berdiri Sultan, Yang Dipertuan Tua, dan para pembesar Siak; di pihak lain ada seorang bangsawan berdarah dinasti yang mempunyai jaringan sendiri dan justru sedang membangun hubungan sangat dekat dengan Raffles.

Petunjuk paling kuat datang dari surat Yang Dipertuan Tua pada akhir 1810. Dalam korespondensi tersebut, tokoh yang disebut Sayid Zain digambarkan sebagai seseorang yang sangat ditakuti oleh Yang Dipertuan Tua dan putranya. Keluhan terhadap Sayid Zain bukan persoalan kecil. Ia dituduh telah mencampuri urusan kekuasaan, mengambil perahu dan harta, menguasai senjata, dan bahkan menggunakan nobat dengan cara yang diasosiasikan dengan raja-raja besar. Dalam budaya politik Melayu, nobat bukan sekadar alat musik istana; ia berkaitan erat dengan legitimasi kerajaan. Karena itu, tindakan tersebut dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap tata kekuasaan.

Di sinilah frasa dalam surat 18 Februari 1811 menjadi sangat berarti. Sultan mengatakan bahwa dirinya, ayahnya, dan para orang besar Siak sangat takut kepada “Pangeran itu”. Bahasa ini hampir identik dengan keluhan Yang Dipertuan Tua terhadap Sayid Zain sebelumnya. Kesamaan objek konflik, kedekatan waktu, dan kesinambungan korespondensi membuat kemungkinan bahwa “Pangeran” dan “Sayid Zain” adalah dua orang berbeda menjadi sangat kecil.

Petunjuk kedua datang dari keluarga Pangeran sendiri. Pada Januari 1811, Tengku Tua, ibu Tunku Pangeran, menulis kepada Raffles. Ia menyatakan kesedihannya karena terpisah dari putranya dan berharap Raffles dapat melindungi serta membantu mempertemukan mereka kembali. Dalam katalog dan edisi surat-surat Raffles, Tengku Tua secara eksplisit disebut sebagai ibu Tunku Pangeran.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Tengku Embab, istri Tunku Pangeran Perca, juga terlibat dalam korespondensi dengan Raffles. Maka ketika dalam surat Sultan Siak tanggal 18 Februari 1811 muncul permintaan Raffles agar “Pangeran itu” dipertemukan dengan ibunya dan bininya, konfigurasi relasinya menjadi sangat spesifik. Bukan hanya seorang Pangeran yang dicari, melainkan seorang Pangeran yang mempunyai ibu dan istri yang sedang berusaha dipertemukan dengannya melalui mediasi Raffles.

Dengan demikian, terdapat semacam “sidik jari relasional” yang sangat kuat: Sayid Zain adalah orang yang ditakuti istana; Tunku Pangeran adalah putra Tengku Tua; Pangeran Perca adalah suami Tengku Embab; dan “Pangeran” dalam surat Sultan adalah orang yang hendak dipertemukan Raffles dengan ibu dan istrinya. Semua petunjuk itu bertemu pada individu yang sama.

Yang membuat tokoh ini semakin menarik adalah hubungannya dengan Raffles. Dalam surat Raffles kepada N. B. Edmonstone pada 31 Januari 1811, Raffles menyebut Tunku Pangeran of Siac sebagai seorang Prince and a Syed. Ia dianggap memiliki pengalaman, jaringan, serta pengetahuan wilayah yang membuatnya berguna dalam misi politik Inggris. Raffles bahkan mempercayainya sebagai agen dalam situasi geopolitik menjelang operasi Inggris terhadap Jawa.

Artinya, orang yang dilihat istana Siak sebagai ancaman justru dilihat Raffles sebagai aset. Inilah titik terpenting dari keseluruhan kisah tersebut. Konflik antara Pangeran dan istana Siak tidak lagi sekadar konflik keluarga atau perebutan pengaruh internal. Ia telah masuk ke ranah geopolitik. Seorang bangsawan yang berkonflik dengan pusat kerajaan memperoleh akses langsung kepada kekuatan kolonial yang sedang memperluas jaringan politiknya di Nusantara.

Hubungan ini berlanjut setelah surat 18 Februari. Katalog British Library mencatat surat Tengku Pangeran Kesuma Dilaga Siak kepada Raffles bertanggal 11 Rabiulawal 1226 H atau 5 April 1811. Ini membuktikan bahwa tokoh tersebut masih aktif berhubungan langsung dengan Raffles setelah episode mediasi mengenai ibu dan istrinya.

Bahkan Letters of Sincerity menunjukkan bahwa hubungan Tunku Pangeran dan Raffles bukan baru dimulai pada 1811. Raffles tampaknya telah mengenalnya sejak sekitar 1807, ketika seorang Raja Pangeran dari Siak berhubungan dengannya mengenai perdagangan kayu untuk kebutuhan kapal. Dengan demikian, Pangeran bukan tokoh dadakan, melainkan figur yang telah lama berada dalam orbit jaringan perdagangan dan diplomasi Inggris.

Aspek lain yang menarik adalah posisi genealogisnya. Dalam rekonstruksi yang digunakan oleh Ahmat Adam dan sumber-sumber lama seperti Begbie, Pangeran tersebut memiliki hubungan darah dengan dinasti Siak melalui garis ibu. Hal ini membantu menjelaskan mengapa keberadaannya begitu sensitif. Ia bukan orang luar, tetapi justru seorang bangsawan dengan legitimasi dan jaringan yang cukup untuk menimbulkan kekhawatiran nyata di lingkungan istana.

Karena itu, ketakutan Sultan dan Yang Dipertuan Tua tidak harus dibaca sebagai ketakutan pribadi. Lebih tepat dilihat sebagai ketakutan politik terhadap figur alternatif yang memiliki darah dinasti, pengikut, pengalaman, kemampuan bergerak antarpelabuhan, dan dukungan atau setidaknya akses kepada Inggris.

Menarik pula mencermati Pelalawan. Dalam surat Sultan 18 Februari, ibu dan istri Pangeran tidak langsung diminta kembali ke pusat Siak, tetapi disebut dapat dihantar ke Pelalawan untuk bertemu dengannya. Ini dapat dibaca sebagai kompromi politik: Raffles tetap diberi ruang untuk mempertemukan Pangeran dengan keluarganya, namun Pangeran tidak serta-merta diizinkan kembali ke pusat kekuasaan Siak. Secara inferensial, Pelalawan berfungsi sebagai semacam ruang aman atau wilayah penyangga.

Dari sini, surat tersebut memperlihatkan kecanggihan diplomasi Siak. Sultan tidak secara frontal menolak permintaan Raffles, karena hubungan dengan Inggris tetap penting. Tetapi ia juga tidak mengorbankan keamanan politik istana. Jawabannya bersifat diplomatik: keluarga boleh dipertemukan, tetapi dengan jarak tertentu dari pusat kekuasaan.

Tokoh ini juga menarik karena memiliki banyak nama dan gelar. Dalam sumber berbeda ia tampil sebagai Tunku Pangeran Kusuma Dilaga, Kesuma Dilaga, Sukma Dilaga, Sakam Dilaga, Pangeran Perca, dan Sayid Zain. Variasi tersebut sebagian muncul dari perbedaan ejaan Jawi, transliterasi, dan cara pejabat Inggris mencatat nama Melayu. Untuk penulisan akademik, bentuk yang aman adalah menyebutnya pertama kali sebagai Tunku Pangeran Kusuma/Kesuma Dilaga, juga dikenal sebagai Pangeran Perca dan Sayid Zain, kemudian memakai salah satu bentuk secara konsisten.

Ada satu kehati-hatian yang tetap perlu dijaga. Nisbah Arab yang kadang dilekatkan kepadanya—misalnya al-Jufri atau Balfagih—belum setegas identifikasi dirinya sebagai Sayid Zain/Tunku Pangeran Kesuma Dilaga. Sumber primer yang sudah dapat diverifikasi cukup kuat untuk nama Sayid Zain dan gelar-gelar Melayu tersebut, tetapi belum cukup untuk memastikan nisbah keluarga Arab tertentu. Karena itu, sebaiknya nisbah itu tidak dijadikan fakta final tanpa dokumen tambahan.

Lebih penting lagi, penelitian ini menghasilkan koreksi arsip. Surat Siak tanggal 18 Februari 1811 yang kita bahas sebaiknya dirujuk sebagai British Library, Raffles Family Collection, Mss Eur D742/1, f.115, bukan MSS 1536 Perpustakaan Negara Malaysia. Katalog British Library mencatat rangkaian surat Siak di koleksi tersebut, termasuk surat Tengku Pangeran Kesuma Dilaga pada f.119.

Dengan demikian, “Pangeran” dalam warkah Sultan Abdul Jalil Khaliluddin bukan lagi sosok anonim. Bukti antarsurat menunjukkan dengan sangat kuat bahwa ia adalah Sayid Zain alias Tunku Pangeran Kusuma/Kesuma Dilaga, Pangeran Perca—seorang bangsawan Siak yang berada dalam konflik serius dengan istana, terpisah dari keluarganya, tetapi pada saat yang sama menjadi figur yang dipercaya dan dimanfaatkan Raffles.

Kisahnya memperlihatkan satu hal penting tentang sejarah Siak awal abad ke-19: politik kerajaan tidak berlangsung dalam ruang tertutup. Konflik dinasti, perdagangan, simbol kedaulatan, hubungan keluarga, dan ekspansi Inggris saling bertemu dalam jaringan yang sama. Karena itu, surat 18 Februari 1811 sesungguhnya bukan sekadar surat tentang seorang Pangeran. Ia adalah sebuah jendela menuju krisis kekuasaan Siak pada saat dunia Melayu sedang memasuki babak baru dominasi kolonial Inggris dan Belanda.

Written by