Atifa Suha, Mahasiswa S2 PAI IAITF, Lantunkan Syair pada Pembukaan Kolokium dan KKN Internasional di UiTM Cawangan Melaka

MELAKA — Mahasiswa Program Magister Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai, Atifa Suha, tampil melantunkan syair dalam rangkaian pembukaan Kolokium dan Kuliah Kerja Nyata Internasional di Universiti Teknologi MARA (UiTM) Cawangan Melaka, Malaysia.

Penampilan tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik dalam pembukaan kegiatan akademik internasional yang mempertemukan sivitas akademika IAITF Dumai dengan para pensyarah dan mahasiswa UiTM Cawangan Melaka. Melalui pembacaan syair, suasana pembukaan tidak hanya terasa formal dan akademis, tetapi juga sarat dengan nilai kebudayaan Melayu serta semangat persaudaraan masyarakat Pesisir Selat Melaka.

Syair berjudul “Ulama dan Peradaban” yang dilantunkan Atifa Suha merupakan karya Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil. Syair tersebut mengangkat tema perjalanan ilmu, warisan ulama, sejarah perkembangan Islam, peradaban Melayu, dan persaudaraan masyarakat serumpun Indonesia–Malaysia.

Dengan penghayatan dan iringan musik bernuansa Melayu-Islam, Atifa membawakan bait-bait yang menggambarkan Selat Melaka bukan sekadar batas geografis, tetapi sebagai ruang sejarah yang sejak dahulu menghubungkan masyarakat, ulama, saudagar, dan pusat-pusat keilmuan di kawasan Melayu.

Selat Melaka sempadan kita,
Riak gelombang menutur kata,
Tentang saudara yang jauh di mata,
Terpisah oleh dua negara.

Bait tersebut menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia mempunyai akar sejarah serta kebudayaan yang kuat. Walaupun dipisahkan oleh batas negara, kedua bangsa tetap dipertemukan oleh bahasa, agama, tradisi, dan khazanah intelektual Melayu yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Melalui bait-bait berikutnya, syair itu juga menggambarkan Melaka sebagai bandar penting tempat para saudagar berlabuh dan ajaran Islam berkembang. Posisi Melaka dalam syair ditempatkan sebagai salah satu pusat pertemuan perdagangan, pendidikan, dakwah, dan pembentukan peradaban Islam di kawasan Selat Melaka.

Penampilan Atifa Suha sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa Pascasarjana PAI IAITF Dumai tidak hanya berpartisipasi dalam diskusi dan presentasi ilmiah, tetapi juga berperan dalam memperkenalkan ekspresi sastra Melayu sebagai bagian dari pendekatan pendidikan Islam berbasis budaya.

Program KKN Internasional IAITF Dumai di Melaka dijadwalkan berlangsung pada 20–28 Juli 2026. Program tersebut merupakan kolaborasi IAITF Dumai dan UiTM Cawangan Melaka yang memadukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, pembelajaran lintas budaya, eksplorasi keilmuan Islam, serta penguatan jejaring akademik Indonesia–Malaysia.

Salah satu agenda utamanya ialah Kolokium Internasional yang melibatkan mahasiswa pascasarjana sebagai ruang pertukaran pemikiran dan pengalaman akademik. Program tersebut juga diarahkan untuk memperluas wawasan mahasiswa melalui kegiatan lapangan, termasuk eksplorasi ilmu falak dan khazanah keislaman di Melaka.

Kolaborasi IAITF Dumai dan ACIS UiTM Cawangan Melaka sendiri telah berlangsung sejak tahun 2017 dan pada 2026 memasuki periode perpanjangan kerja sama yang ketiga. Ruang lingkup kerja sama meliputi mobilitas mahasiswa, program pensyarah pelawat, KKN internasional, penelitian, dan berbagai agenda akademik bersama.

Kehadiran mahasiswa S2 PAI dalam kegiatan tersebut memperlihatkan arah pengembangan Pascasarjana IAITF Dumai yang menjadikan Khazanah Pendidikan Pesisir Selat Melaka sebagai salah satu ciri dan distingsi akademiknya. Sebelumnya, program Pascasarjana PAI IAITF juga telah melaksanakan perkuliahan internasional bersama akademisi dari institusi pendidikan tinggi di Melaka dengan pembahasan mengenai pendidikan multikultural dan peradaban masyarakat pesisir.

Rektor IAITF Dumai, Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil., memandang pelibatan mahasiswa dalam kegiatan internasional sebagai bagian penting dari proses pendidikan. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori di ruang perkuliahan, tetapi juga perlu membangun pengalaman akademik, kemampuan berkomunikasi lintas budaya, serta kesadaran untuk merawat warisan keilmuan dan kebudayaan Melayu.

Melalui penampilan syair tersebut, Atifa Suha telah menghadirkan warna tersendiri dalam pembukaan Kolokium dan KKN Internasional. Kata-kata yang dilantunkannya menjadi jambatan antara ilmu dan budaya, antara kampus dan masyarakat, serta antara Indonesia dan Malaysia.

Penampilannya juga menyampaikan pesan bahwa sastra Melayu tetap relevan sebagai sarana pendidikan, diplomasi kebudayaan, dan penguatan identitas generasi muda. Dalam lantunan syair, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi kembali dihidupkan dan diperkenalkan dalam ruang akademik internasional.

Demikian syair saya lantunkan,
Budaya Melayu kita kekalkan,
Melayu satu tanpa sempadan,
Kebersamaan ini adalah warisan.

Pembacaan syair oleh Atifa Suha akhirnya menjadi simbol bahwa pelaksanaan KKN Internasional bukan sekadar perjalanan ke luar negeri. Program tersebut merupakan rihlah ilmu untuk menemukan kembali akar persaudaraan, memperluas jejaring akademik, serta menyambung khazanah ulama dan peradaban Islam di sepanjang Pesisir Selat Melaka.

Written by