Iaitfdumai.ac.id- DUMAI — Komitmen Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan kembali di wujudkan melalui keterlibatan langsung pimpinan kampus dalam forum akademik global. Rektor IAITF Dumai, Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si., M.Phil, tampil sebagai panel utama dalam Seminar Pengajaran Kolaboratif Internasional CTU554 “Penghayatan Etika & Peradaban II” yang diselenggarakan secara daring pada Senin, 8 Desember 2025 melalui platform Google Meet.
Seminar ini merupakan bagian dari kolaborasi akademik lintas negara bersama Universiti Teknologi MARA (UiTM) dan institusi mitra Malaysia, yang mengangkat tema besar “Teknologi Maklumat dan Komunikasi sebagai Penggerak Kesepaduan Nasional”. Kehadiran langsung Rektor IAITF Dumai sebagai pemateri internasional mencerminkan peran aktif pimpinan dalam membangun diplomasi akademik sekaligus mengokohkan posisi IAITF Dumai pada jejaring pendidikan tinggi serantau.
Dalam paparannya yang berjudul “Tantangan ICT dalam Pembentukan Peradaban di Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai”, Rektor IAITF Dumai menegaskan bahwa peradaban abad ke-21 dibentuk oleh tiga kekuatan utama: data, konektivitas, dan kecepatan informasi. Oleh karena itu, lembaga pendidikan Islam dituntut untuk segera bergeser dari pendekatan administratif-tradisional menuju ekosistem pembelajaran digital yang berkelanjutan.
“Transformasi ICT bukan lagi pilihan, tetapi keharusan peradaban. Perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya menguasai teknologi, tetapi harus mengintegrasikan ICT dengan nilai ilahiyah, etika, dan kearifan lokal Melayu sebagai fondasi pembentukan karakter generasi masa depan,” tegasnya di hadapan para peserta.
Dr. Rizal Akbar juga memaparkan posisi strategis IAITF Dumai sebagai kampus Islam Terdepan di Pesisir Selat Melaka, sebuah kawasan yang sejak abad ke-15 telah menjadi koridor peradaban, perdagangan, dan ilmu pengetahuan. Menurutnya, identitas maritim tersebut menuntut IAITF Dumai untuk tampil sebagai pusat kolaborasi akademik internasional yang memadukan unggulan lokal dan jejaring global.
Lebih lanjut, beliau menguraikan konsep “ICT dan Tata Nilai TAFIDU” yang meliputi: Knowledge Civilization — pemanfaatan ICT untuk menumbuhkan berpikir kritis, mendalam, dan berbasis hikmah. Governance Civilization — pemaknaan data dan sistem digital sebagai penopang transparansi, akuntabilitas, serta tata kelola yang bebas manipulasi. Community Civilization — dedikasi teknologi sebagai sarana pengabdian dan penguatan dakwah digital. Economic Civilization — penciptaan daya saing global melalui kualitas literasi ICT yang berkontribusi pada reputasi dan nilai tambah ekonomi institusi.
Seminar kolaboratif ini menghadirkan pula panelis undangan dari Malaysia, yakni Puan Nur Azila binti Azahari, Pensyarah Universiti Malaysia Perlis (UniMAP), yang mengulas topik “Peradaban Manusia dalam Arus Transformasi Digital: Antara Kemajuan dan Kemanusiaan.” Diskusi kedua narasumber memberi perspektif komparatif antara Indonesia dan Malaysia terkait tantangan pendidikan, budaya digital, serta pembentukan kesadaran etis generasi muda di era Society 5.0.
Kegiatan ini diperkaya dengan kehadiran para pensyarah kursus dari UiTM dan mitra akademik, di antaranya Profesor Dr. Salahudin Suyurno, Dr. Norizan Hassan, Dr. Sharifah Fadylawaty Syed Abdullah, dan Ustazah Syuhaida Idha Abd Rahim, yang berperan sebagai moderator sekaligus pengampu mata kuliah lintas kampus. Keterlibatan mereka menjadikan seminar tersebut sebagai praktik langsung collaborative teaching dan international co-lecturing.
Sebagai pimpinan perguruan tinggi, partisipasi aktif Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar dalam seminar ini tidak hanya menjadi representasi institusional, tetapi juga bukti penguatan peran dosen dan pimpinan IAITF Dumai dalam ekosistem kerja sama global. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi nyata internasionalisasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pada aspek pendidikan, pengajaran kolaboratif, dan pengembangan jejaring dosen internasional.
Melalui forum ini, IAITF Dumai menegaskan posisinya sebagai kampus yang bukan hanya menjadi tuan rumah kegiatan internasional, tetapi juga produsen gagasan dan pemimpin wacana etik peradaban berbasis nilai Islam dan budaya Melayu di ruang akademik global. Keterlibatan langsung rektor sebagai pemateri menjadi simbol bahwa diplomasi pendidikan tinggi tidak cukup dijalankan secara struktural, tetapi harus dihidupkan melalui keterlibatan intelektual pimpinan kampus di panggung internasional.
Dokumen : Sertifikat
