Essay Oleh : Hj. Lestary Fitriany, ME (Ketua SPI & Dosen Prodi Ekonomi Syariah IAITF Dumai)
IAITF Dumai telah mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam pendidikan formal di kampus. Hal ini tercermin dalam kurikulum dan mata kuliah yang dikembangkan. Penelitian dari dosen IAITF menunjukkan bahwa implementasi moderasi beragama dilakukan melalui pendekatan eksplisit (mata kuliah khusus) dan pendekatan implisit (penyisipan nilai toleransi, keadilan, keseimbangan dalam modul PAI. Strategi pembelajaran pun beragam, mulai dari diskusi kelas, studi kasus lintas disiplin, hingga pembelajaran pengalaman, meski diakui terdapat tantangan seperti perlunya pelatihan dosen dan resistensi ideologis. Upaya ini berdampak positif bagi mahasiswa: menanamkan pola pikir inklusif, meningkatkan harmoni sosial di kampus, dan keterampilan analitis dalam menyikapi konflik.
Selain kurikulum, sejumlah seminar dan diskusi bertema toleransi serta pelatihan bagi sivitas akademika digelar secara rutin. Misalnya, dalam program Matrikulasi mahasiswa baru tahun 2024, Rektor IAITF Dr. Ahmad Rozai Akbar menekankan esensi dakwah yang moderat, mengajak mahasiswa memahami Islam secara kaffah dan tidak sempit agar kelak menjadi “penerang bagi masyarakat”. Sikap ini juga disuarakan dalam workshop moderasi beragama yang diadakan bersamaan dengan peluncuran KKN 2021, di mana pimpinan kampus mengingatkan bahwa agama harus disajikan dengan wajah yang ramah dan menggembirakan, bukan menakutkan, serta mendorong mahasiswa menampilkan pemahaman Islam yang luas dan seimbang di tengah masyarakat.
Kampus juga aktif menjalin dialog dengan komunitas lokal demi memperluas pemahaman moderat. Sebagai contoh, awal 2024 IAITF mengadakan seminar moderasi beragama bagi kelompok ibu-ibu majelis wirid se-Kota Dumai. Kegiatan ini merupakan kolaborasi dengan Kantor Kemenag Dumai yang bertujuan meningkatkan pemahaman toleransi di kalangan masyarakat akar rumput, khususnya kaum ibu, agar nilai-nilai damai dan tasamuh (toleransi) mengakar dalam keluarga dan lingkungan. Acara seminar dan dialog semacam ini menunjukkan komitmen IAITF dalam mentransfer nilai moderasi tidak hanya di kelas, tetapi juga ke masyarakat luas melalui edukasi informal.
Pengabdian Masyarakat & KKN Bertema Moderasi Beragama

Sebagai wujud Catur Dharma (Tri Dharma plus satu pada PTKIS), IAITF Dumai konsisten menjadikan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai sarana implementasi moderasi beragama. Selama lima tahun terakhir, KKN di IAITF kerap mengusung tema moderasi. Pada tahun akademik 2020/2021, misalnya, KKN IAITF secara resmi mengambil tema “Moderasi Beragama”. Tema ini dipilih dengan keyakinan bahwa Moderasi Beragama dapat menjadi sarana mewujudkan kemaslahatan hidup beragama dan berbangsa, menciptakan kerukunan dan harmoni sosial, sekaligus menjaga kebebasan beribadah serta menghargai keberagaman dan perbedaan pandangan.
Pelaksanaan KKN moderasi beragama diwujudkan dalam berbagai kegiatan di desa sasaran. Mahasiswa KKN terlebih dahulu dibekali melalui Workshop Moderasi (seperti pada launching KKN Juni 2021) agar mampu menerjemahkan nilai toleransi dan keadilan sosial dalam program kerja di lapangan. Selama ~40 hari pengabdian di kelurahan, para mahasiswa mengadakan penyuluhan dan kegiatan sosial yang mendorong sikap saling menghargai antar umat beragama. Di Kelurahan Tanjung Penyembal, misalnya, tim KKN mengidentifikasi keragaman kepercayaan masyarakat setempat dan merumuskan program untuk meningkatkan pemahaman warga akan pentingnya saling merangkul perbedaan tersebut. Dalam laporan KKN itu ditekankan bahwa melalui perbedaan pemahaman antar umat, diharapkan tiap individu menjadi lebih moderat, saling menghormati dan menyayangi pemeluk agama lain. Prinsip perilaku beragama yang bijak – seperti mindfulness, kearifan, toleransi, kepedulian (charity), dan sikap tengah (moderation) – turut disosialisasikan kepada warga.
Hasil nyata program KKN moderasi beragama tampak dari antusiasme dan dukungan masyarakat lokal. Lurah dan tokoh masyarakat di lokasi seperti Basilam Baru dan Bagan Keladi terlibat aktif membantu mahasiswa, menciptakan suasana KKN yang kondusif. Walau terdapat tantangan lapangan, mahasiswa belajar langsung menyelesaikan masalah sosial secara damai, mengasah keterampilan problem solving dengan pendekatan musyawarah dan empati. Pasca KKN, pengalaman dan kisah sukses mahasiswa didokumentasikan dalam bentuk buku kenang-kenangan KKN, sehingga dapat menjadi referensi tentang praktik moderasi beragama di masyarakat. Buku-buku seperti “Cinta dan Dedikasi untuk Basilam Baru” atau “Tanjung Penyembal Punya Cerita” berisi memori program moderasi, pengamatan sosial, serta refleksi mahasiswa dalam mengelola perbedaan selama KKN. Langkah ini menandai bahwa nilai moderat telah tertanam dan diabadikan sebagai bagian dari rekam jejak pengabdian IAITF.
Pada 2024, IAITF Dumai bahkan meningkatkan skala pengabdian moderasinya melalui KKN Kolaborasi Internasional. Program bernama KKN-KIPSM 2024 (Kuliah Kerja Nyata – Kolaborasi Internasional Khazanah Islam Pesisir Selat Melaka) melibatkan kerjasama dengan kampus di Malaysia. Mahasiswa IAITF bersama mitra dari UIN Suska Riau dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Melaka diterjunkan selama ~10 hari di Melaka, Malaysia. Dalam program ini mereka mempelajari ilmu falak syar’ie dan manajemen wakaf di institusi setempat, sekaligus mengeksplorasi budaya lokal, mengunjungi situs sejarah, serta terlibat kegiatan masyarakat di Melaka. Keterlibatan lintas negara ini memperkaya wawasan mahasiswa tentang khazanah Islam di kawasan Selat Melaka dan melatih mereka berinteraksi dalam masyarakat multikultural. Sekembalinya ke tanah air, peserta KKN internasional tersebut diwajibkan menyusun buku bertema “Khazanah Islam Pesisir Selat Melaka” yang merangkum temuan riset, observasi, dan pengalaman mereka selama di Malaysia. Hal ini tak hanya mengabadikan pengetahuan, tapi juga menjadi sumbangsih literatur mengenai Islam dan budaya Melayu lintas negara. Program KKN-KIPSM terbukti membawa banyak manfaat, baik secara akademis maupun pengalaman hidup; mahasiswa mengaplikasikan teori ke realitas sosial serta mempererat hubungan antar masyarakat dan akademisi lintas bangsa. Ini selaras dengan semangat moderasi, di mana pertukaran pengetahuan antar budaya dan bangsa mengikis prasangka dan menumbuhkan saling pengertian.
Kerja Sama & Forum Lintas Umat Beragama (Lokal dan Internasional)

Untuk memperkuat nilai toleransi, IAITF Dumai aktif menjalin kerja sama strategis dengan berbagai pihak, baik di tingkat lokal maupun mancanegara. Di tingkat lokal, kampus ini menjadi mitra penting Kementerian Agama (Kemenag) Kota Dumai dalam program moderasi. Pada Januari 2022, IAITF menandatangani MoU dengan Kemenag Dumai yang mencakup kerjasama pembinaan keluarga sakinah (BP4), peningkatan kompetensi guru agama, dan khususnya program moderasi beragama. Kepala Kemenag Dumai, Drs. H. Safwan, menyebut IAITF sebagai “pemikir” sementara Kemenag sebagai “pelaksana”, artinya ide-ide moderasi dari akademisi IAITF dijalankan di masyarakat oleh Kemenag. Tujuan akhirnya adalah membangun ketenangan, kerukunan, dan kedamaian dalam kehidupan beragama di Dumai. Usai penandatanganan MoU tersebut, kedua institusi langsung menggelar dialog interaktif bertema “Moderasi Beragama dalam Keberagaman dan Keberkahan” melalui channel Tafidu TV (media kampus IAITF). Dialog yang disiarkan live ini melibatkan Rektor IAITF dan Kepala Kemenag, membahas pentingnya sikap moderat untuk menjaga keharmonisan di tengah pluralitas masyarakat Dumai. Kerjasama semacam ini menunjukkan peran IAITF sebagai penggerak forum lintas agama secara fungsional, bekerjasama dengan otoritas pemerintah untuk merawat toleransi di daerah.
Selain dengan Kemenag, IAITF juga mendukung kegiatan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat. Dumai dikenal sebagai kota multietnis dengan 16 suku dan beragam agama, namun berhasil mempertahankan keamanan dan ketenteraman melalui toleransi tinggi warganya. Pihak kampus berkontribusi dalam menjaga iklim harmonis ini, antara lain dengan mendorong mahasiswa dan dosennya terlibat dalam dialog lintas iman yang diadakan pemerintah daerah atau FKUB. Misalnya, dalam Dialog Kerukunan Tokoh Lintas Agama yang digelar FKUB Dumai (November 2022), turut hadir tokoh Islam, Kristen (Protestan dan Katolik), Hindu, Buddha, hingga Khonghucu. Walau tidak disebut secara eksplisit, perwakilan kampus Islam seperti IAITF kemungkinan berperan melalui MUI atau tokoh Islam setempat. Kehadiran akademisi Muslim di forum-forum demikian membantu menjembatani pemahaman antarumat beragama. Pemerintah daerah sendiri mengapresiasi inisiatif dialog lintas agama ini, sejalan dengan arahan nasional agar FKUB proaktif menjaga kerukunan di segala lini. Dukungan akademik dari IAITF memperkaya perspektif diskusi dengan landasan keilmuan Islam moderat, sehingga menghasilkan solusi yang bijak untuk isu-isu keberagaman lokal.
Pada level internasional, IAITF Dumai membangun jaringan kolaborasi lintas negara terutama dengan institusi di kawasan Asia Tenggara. Geografis Dumai di pesisir Selat Malaka dimanfaatkan sebagai pintu untuk menjalin hubungan akademik-budaya dengan negara jiran. Salah satu terobosannya adalah menjadi inisiator Perhimpunan Ilmuan Pesisir Selat Malaka (PIPSM), yang mewadahi kolaborasi para akademisi dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Melalui PIPSM, IAITF turut menggagas program-program pengabdian dan penelitian bersama, contohnya KKN-KIPSM di Melaka tahun 2024 seperti diuraikan sebelumnya. Jaringan ini memungkinkan forum ilmiah antarbangsa membahas tema moderasi dan khazanah Islam Melayu secara rutin, seperti Kolokium Antar Bangsa Kajian Islam Kontemporer yang mengangkat topik “Khazanah Islam Pesisir Selat Melaka” pada Juli 2024. Keterlibatan lintas negara ini tidak hanya bagi mahasiswa, namun juga dosen. Rektor IAITF, Dr. Ahmad Rozai Akbar, diundang sebagai pembicara webinar internasional “Merajut Orang Melayu di Asia Tenggara” (Desember 2020) yang menghadirkan cendekiawan dari Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Thailand. Dalam forum tersebut, ia membahas kaitan Islam dan identitas Melayu di Nusantara, menegaskan bahwa Islam adalah bagian penting dari kehidupan orang Melayu dan menjadi rahmat bagi keragaman budaya mereka. Partisipasi ini menunjukkan kiprah IAITF dalam dialog budaya-keagamaan di tingkat regional, memperkuat narasi Islam yang inklusif dan kontekstual dengan budaya lokal di kancah internasional.
Upaya kolaborasi berlanjut dengan MoU antar kampus. Juni 2025, delegasi IAITF melakukan benchmarking mutu akademik ke UiTM Cawangan Pahang, Malaysia, sekaligus merumuskan Memorandum of Agreement (MoA) kerjasama internasional. Pihak UiTM menyambut baik rencana ini dan kedua kampus segera menyepakati kolaborasi di berbagai bidang, termasuk pertukaran dosen-mahasiswa, riset bersama, dan program pengabdian lintas negara. Wakil Rektor IAITF Dr. HM. Rizal Akbar menyatakan MoA ini diharapkan memperkuat sinergi dalam penulisan ilmiah, penelitian, dan pengabdian internasional. Bahkan sebelumnya, IAITF juga menjalin kemitraan dengan Universitas Fatoni di Thailand dan beberapa PTKIN/PTKIS di kawasan ASEAN, sebagai langkah menuju kampus bertaraf global. Semua kerja sama ini mengukuhkan posisi IAITF sebagai jembatan antar bangsa dalam menyebarkan nilai Islam moderat. Melalui interaksi akademik lintas budaya, sivitas IAITF terpapar berbagai perspektif, mendorong sikap terbuka dan toleran terhadap perbedaan di kancah internasional.
Kegiatan Sosial-Budaya: Dakwah Islam dan Pendekatan Budaya Melayu

Salah satu keunikan IAITF Dumai adalah penguatan dakwah Islam yang selaras dengan kearifan lokal Melayu. Budaya Melayu yang kental di wilayah pesisir Riau dipadukan dengan ajaran Islam secara harmonis, menciptakan wajah Islam yang ramah dan rahmatan lil-‘alamin. Dalam berbagai kegiatan sosial-budaya kampus, nuansa tradisi dan nilai lokal diangkat untuk mendukung pesan keagamaan yang moderat.
Contohnya, IAITF rutin menggelar peringatan hari-hari besar Islam dengan sentuhan budaya setempat. Pada Malam Nisfu Sya’ban 1445 H (2024), kampus menyelenggarakan peringatan yang khidmat dan penuh kebersamaan, menghidupkan tradisi doa dan zikir bersama di mushalla kampus sekaligus mengajak masyarakat sekitar. Rangkaian acara seperti pembacaan Yasin dan berdoa bersama dilaksanakan untuk menjaga tradisi amalan Nisfu Sya’ban yang telah turun-temurun dijunjung umat Melayu, sambil menekankan maknanya sebagai momentum introspeksi dan mempererat persaudaraan. Demikian pula saat Maulid Nabi 2024, IAITF mengadakan perayaan di Mushalla As-Shuffah dengan mengusung tema “Kebersamaan dalam Tradisi Berbagi dan Berzanji”. Tradisi berzanji (melantunkan syair pujian kepada Nabi) dipadukan dengan kegiatan sosial berbagi sedekah, mencerminkan sintesis indah antara syiar Islam dan budaya Melayu yang toleran (berzanji sendiri merupakan warisan budaya Islam Nusantara). Melalui acara ini, mahasiswa diajarkan mencintai Rasulullah sekaligus merawat tradisi lokal yang positif, sehingga tumbuh sikap bangga beragama tanpa harus meninggalkan budaya daerah.
Pendekatan dakwah kultural juga tampak dalam Kajian Ramadhan yang digagas kampus. Selama bulan Ramadhan, IAITF tak hanya fokus pada ibadah ritual, tetapi memanfaatkan momentum ini untuk pendalaman nilai-nilai Islam rahmatan lil-alamin. Misalnya pada Ramadhan 1446 H (2025), IAITF Dumai menggelar kajian bertajuk “Membentengi Akidah Generasi Umat Islam”. Rektor dan para ustadz lokal diundang memberikan ceramah yang relevan dengan tantangan era kini, seperti bagaimana menjaga akidah pemuda dari pengaruh ekstremisme maupun materialisme modern. “Ramadhan bukan hanya tentang puasa, tetapi juga waktu untuk memperdalam pemahaman agama. Kami berharap melalui kajian ini, mahasiswa dan generasi muda lebih siap menghadapi godaan zaman tanpa kehilangan jati diri Islam yang toleran,” ujar narasumber dalam kajian tersebut (kutipan dari situs resmi IAITF). Bahkan ada sesi khusus “Ramadhan di Era Digital” bekerja sama dengan penyuluh Kemenag, Ust. Denny Febriansyah, yang disiarkan di kanal YouTube Tafidu TV. Sesi ini membahas bagaimana memanfaatkan teknologi secara positif untuk dakwah dan pendidikan Islam, sembari menghindari hoaks atau provokasi SARA di media sosial. Materi-materi semacam ini penting untuk meneguhkan Islam wasathiyah (moderat) di kalangan mahasiswa digital native.
Selain event religius, IAITF juga mengangkat tema budaya Melayu dalam kajian ilmiah. Sebagai contoh, jurnal dan publikasi kampus kerap mengulas hubungan Islam dan budaya lokal. Salah satu artikel populer berjudul “Islam & Tamaddun Melayu (Tinjauan Kawasan Pantai Timur Sumatera)” mengupas bagaimana peradaban Melayu pesisir menerima Islam secara damai dan mengembangkannya dengan ciri khas toleransi. Pemahaman historis seperti ini diajarkan kepada mahasiswa agar mereka menyadari bahwa masyarakat Melayu Riau memiliki tradisi panjang hidup rukun dalam kemajemukan. Institut bahkan memiliki Tata Nilai yang menjunjung budaya Melayu dan moderasi beragama sebagai potensi lokal berdaya saing global. Artinya, setiap aktivitas akademik maupun nonakademik diarahkan agar selaras dengan identitas Melayu yang inklusif. Misalnya dalam etika kampus ditekankan adat sopan santun, rasa hormat pada orang tua dan guru, semangat gotong royong, dan nilai bersama dalam perbedaan yang menjadi ciri Melayu Islam. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip moderasi beragama.
Lebih jauh, pendidikan karakter berbasis Islam dan budaya Melayu menjadi ciri khas IAITF menuju 2045. Pimpinan kampus menegaskan bahwa IAITF ingin mencetak lulusan berkarakter kuat yang berlandaskan ajaran Islam rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi semesta alam). Ini ditempuh dengan cara mengintegrasikan ajaran Islam dengan kearifan lokal Melayu dalam proses pendidikan. Nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, kerja keras, tanggung jawab sosial disemai bersama nilai budaya tempatan, sehingga diharapkan lahir pemimpin muda yang cerdas, berintegritas, dan berempati terhadap sesama. Oleh karena itu, kegiatan sosial-budaya di IAITF tidak pernah lepas dari nuansa moderat: dakwah selalu dikemas secara santun dan merangkul, sesuai adat Melayu yang terkenal ramah dan menghargai tamu. Model dakwah kultural ini sekaligus menjadi benteng deradikalisasi, karena membentengi akidah generasi dengan pendekatan cinta budaya dan cinta tanah air.
IAITF sebagai Kampus Islam Moderat & Kontribusi Menuju Indonesia Emas 2045

Rangkaian program di atas menegaskan posisi IAITF Dumai sebagai kampus Islam moderat di kawasan pesisir Selat Melaka. Melalui inovasi akademik, pengabdian masyarakat tematik, kerjasama lintas agama dan bangsa, serta dakwah berbasis budaya, IAITF konsisten mempromosikan wajah Islam yang toleran, inklusif, adil, dan rahmatan lil-alamin. Di wilayah pesisir yang menjadi pintu gerbang perlintasan budaya dan agama, peran ini sangat strategis. IAITF berfungsi layaknya “lentera” di Kota Dumai yang menerangi masyarakat dengan pemahaman agama yang terbuka namun tetap berakar pada nilai lokal. Hal ini berkontribusi langsung pada stabilitas sosial di Dumai dan sekitarnya. Pemerintah daerah pun terbantu dalam menjaga kerukunan, karena kampus mampu melahirkan intelektual-intelektual muda yang berpikiran moderat dan menjadi penggerak dialog di tengah masyarakat majemuk.
Dampak jangka panjangnya, program moderasi beragama IAITF Dumai selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, yakni visi 100 tahun kemerdekaan Indonesia untuk menjadi negara maju yang berkeadilan dan berbudaya luhur. Kunci mencapai Indonesia Emas tidak hanya pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul secara ilmu dan moral. IAITF menjawab tantangan ini dengan menyiapkan mahasiswa yang kompeten di bidangnya sekaligus berkarakter moderat. Lulusan yang religius tapi toleran adalah aset penting bangsa dalam mewujudkan masyarakat yang beradab, rukun, dan sejahtera pada 2045. Mereka kelak akan menjadi pendidik, pemimpin, dan profesional di berbagai sektor yang mampu menjembatani perbedaan serta mencegah konflik SARA.
Kontribusi IAITF juga terlihat dalam pemberdayaan masyarakat dan riset sosial keagamaan. Misalnya, melalui KKN dan penelitian berbasis komunitas pesisir, kampus ini menghasilkan solusi nyata bagi masalah lokal (pendidikan, ekonomi, lingkungan) dengan semangat keadilan sosial. Upaya memberdayakan ekonomi umat (seperti program literasi keuangan syariah inklusif, pengembangan pariwisata halal di pesisir, dll.) sejalan dengan target Indonesia Emas yang menekankan pertumbuhan inklusif berbasis moral dan keadilan. Dalam kerangka ini, moderasi beragama menjadi landasan etis bagi pembangunan: masyarakat yang toleran akan lebih solid dalam bekerja sama membangun ekonomi, dan kebijakan pembangunan pun akan berperspektif keadilan bagi semua golongan.
Selain itu, pergaulan internasional IAITF memperkuat posisi Indonesia sebagai negara Muslim moderat yang disegani dunia. Kolaborasi IAITF dengan Malaysia, Thailand, Singapura, dll. melahirkan pertukaran ilmu dan budaya yang memperkaya khasanah Islam Nusantara. Jaringan PIPSM yang digagas turut mendukung diplomasi soft-power Indonesia di kawasan – menunjukkan bahwa Muslim Indonesia dapat memimpin inisiatif perdamaian dan ilmu pengetahuan yang inklusif. Hal ini mendukung visi 2045 dimana Indonesia diharapkan menjadi rujukan dalam praktik Islam toleran di kancah global.
Secara keseluruhan, program-program nyata IAITF Dumai pada 2020–2025 – dari pembenahan kurikulum moderat, seminar toleransi, KKN moderasi di desa hingga mancanegara, kerjasama lintas agama, hingga dakwah kultural – telah membentuk ekosistem kampus yang konsisten dengan nilai Islam wasathiyah. Ekosistem ini melahirkan keluaran (output) SDM berkualitas yang tak hanya cerdas, namun memiliki social trust tinggi dan siap berkontribusi bagi masyarakat luas. Inilah modal sosial berharga menyongsong Indonesia Emas 2045. Dengan semangat moderasi beragama, IAITF Dumai berkomitmen terus mendidik generasi emas yang unggul secara intelektual, berbudi pekerti luhur, menghargai keragaman, dan berdedikasi membangun peradaban. Kontribusi tersebut, meski dimulai dari kampus di pesisir Riau, memberi dampak berantai bagi terwujudnya Indonesia maju yang berkeadilan dan rahmatan lil-alamin di masa mendatang.
