Ditulis oleh : Dr. Windayani, M.Pd
Manuskrip Melayu-Jawi tidak hanya menyimpan ajaran keagamaan, syair, hikayat, atau pengetahuan tradisional, tetapi juga merekam hubungan politik dan diplomatik antarkerajaan Melayu. Salah satu naskah yang menarik adalah surat dari Sultan Abdul Rahman Muazam Shah dari Riau-Lingga kepada Sultan Zainal Abidin bin al-Marhum Sultan Ahmad di Terengganu, bertarikh 20 Jamadilakhir 1322 H atau sekitar 2 September 1904 M. Naskah ini memperlihatkan bahwa pada awal abad ke-20, kerajaan-kerajaan Melayu masih terhubung melalui jaringan komunikasi politik, budaya, dan keagamaan yang melampaui batas-batas negara modern.
Secara visual, manuskrip tersebut menunjukkan ciri khas surat diraja Melayu. Teks ditulis dalam aksara Jawi di atas lembaran yang kini telah berusia lebih dari satu abad. Pada sisi kanan terlihat mohor atau cap kerajaan, disertai tanda tangan atau paraf yang menegaskan sifat resmi dokumen. Keberadaan mohor tersebut sangat penting karena dalam tradisi persuratan kerajaan Melayu, mohor bukan sekadar hiasan, melainkan simbol legitimasi dan otoritas seorang penguasa. Naskah yang tersimpan dalam koleksi Perpustakaan Negara Malaysia ini sekaligus memperlihatkan bagaimana administrasi kerajaan Melayu dahulu menggabungkan bahasa, simbol kekuasaan, dan tata kehormatan dalam sebuah surat resmi.
Bentuk bahasa dalam surat tersebut juga mencerminkan adab diplomatik Melayu-Islam. Surat kerajaan pada masa itu lazim diawali dengan ungkapan penghormatan, pujian, doa, dan sapaan yang menunjukkan kedudukan masing-masing pihak. Bahasa tidak digunakan secara sederhana, melainkan disusun dengan penuh kesantunan dan simbolik. Dari sini dapat dipahami bahwa surat bukan hanya sarana menyampaikan informasi, tetapi juga instrumen politik yang menjaga martabat penguasa serta hubungan persaudaraan antarkerajaan.
Hubungan antara Riau-Lingga dan Terengganu dalam manuskrip ini memperlihatkan bahwa dunia Melayu pada awal abad ke-20 masih merupakan sebuah ruang sosial-politik yang saling berhubungan. Riau-Lingga berada di wilayah kepulauan, sementara Terengganu terletak di Semenanjung Melayu. Walaupun secara geografis terpisah, komunikasi antarkerajaan tetap berlangsung. Surat semacam ini memberi bukti bahwa jaringan politik Melayu tidak dapat dipahami hanya melalui batas teritorial modern antara Indonesia dan Malaysia. Pada masa itu, laut bukanlah pemisah, melainkan penghubung utama antara pusat-pusat kekuasaan Melayu.
Naskah ini juga penting ketika ditempatkan dalam konteks sejarah Riau-Lingga. Awal abad ke-20 merupakan periode yang penuh tekanan bagi kerajaan-kerajaan Melayu akibat semakin kuatnya kekuasaan kolonial. Riau-Lingga berada dalam situasi politik yang semakin kompleks, sementara berbagai kerajaan di Semenanjung Melayu juga mengalami perubahan hubungan dengan kekuatan Inggris. Dalam suasana seperti itu, surat antarsultan menjadi sangat penting sebagai sarana mempertahankan hubungan, menyampaikan pesan, memperkuat ikatan dinasti, maupun merespons perubahan politik di kawasan.
Karena itu, manuskrip ini dapat dibaca bukan hanya sebagai surat antara dua penguasa, tetapi sebagai bagian dari jaringan diplomasi Melayu. Melalui surat seperti inilah kita dapat memahami bagaimana kerajaan-kerajaan Melayu berkomunikasi, mempertahankan hubungan, menyampaikan kepentingan, dan menjaga tata pergaulan politik. Ia memberikan gambaran langsung tentang cara dunia Melayu mengelola hubungan antarwilayah sebelum terbentuknya sistem negara-bangsa modern.
Selain nilai politik, naskah ini juga sangat penting bagi kajian bahasa dan filologi. Penggunaan aksara Jawi menunjukkan bahwa pada masa tersebut bahasa Melayu-Jawi masih menjadi medium utama komunikasi resmi kerajaan. Bahasa Melayu memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar bahasa percakapan. Ia digunakan dalam urusan administrasi, hukum, perdagangan, diplomasi, dan hubungan keagamaan. Dengan demikian, manuskrip ini turut menjadi bukti kedudukan bahasa Melayu sebagai bahasa penting dalam peradaban kawasan.
Keberadaan mohor kerajaan membuka ruang penelitian yang lebih khusus. Mohor dalam tradisi Melayu sering kali memuat nama, gelar, atau ungkapan keagamaan yang berhubungan dengan legitimasi kekuasaan. Karena itu, penelitian terhadap bentuk dan tulisan dalam mohor dapat menghasilkan informasi tambahan mengenai identitas penguasa, gelar resmi, serta konsep kekuasaan yang digunakan dalam tradisi kerajaan Melayu. Namun, pembacaan inskripsi mohor dalam naskah ini perlu dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan gambar resolusi tinggi agar tidak terjadi kekeliruan penafsiran.
Dari sudut pandang sejarah kawasan, surat Riau-LinggaโTerengganu ini juga membuka kemungkinan untuk melihat dunia Melayu sebagai sebuah jaringan peradaban. Riau-Lingga tidak berdiri sendiri. Ia berhubungan dengan Johor, Terengganu, Pahang, Singapura, Penyengat, Lingga, Siak, serta kawasan pesisir Sumatra dan Semenanjung Melayu. Hubungan tersebut dibangun melalui jalur keluarga kerajaan, perdagangan, agama, ulama, pendidikan, dan diplomasi. Oleh karena itu, manuskrip seperti ini menjadi jendela untuk melihat dunia Melayu sebagai suatu ruang yang terhubung secara historis dan kultural.
Bagi kajian manuskrip di lingkungan IAITF Dumai dan Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM), naskah ini memiliki nilai yang sangat strategis. Posisi Dumai yang berada di kawasan Pesisir Selat Melaka memungkinkan kajian manuskrip dikembangkan tidak hanya sebagai penelitian teks, tetapi juga sebagai upaya memahami jaringan sejarah kawasan. Surat-surat kerajaan dapat menjadi sumber untuk mengkaji hubungan antarkerajaan, perkembangan bahasa Melayu, jaringan ulama, sistem pemerintahan, hukum, dan tradisi diplomasi.
Lebih jauh lagi, penelitian terhadap manuskrip semacam ini dapat dikembangkan ke dalam program transliterasi Jawi, katalogisasi naskah, seminar internasional, penerbitan buku, dan penelitian bersama antara lembaga di Indonesia dan Malaysia. Dengan begitu, manuskrip tidak hanya disimpan sebagai artefak, tetapi benar-benar dihidupkan kembali sebagai sumber pengetahuan.
Pada akhirnya, surat Sultan Abdul Rahman Riau-Lingga kepada Sultan Zainal Abidin III Terengganu merupakan contoh penting bagaimana selembar manuskrip mampu membuka wawasan yang sangat luas tentang dunia Melayu. Di dalamnya tersimpan jejak bahasa, simbol kekuasaan, tata diplomasi, hubungan antarkerajaan, dan dinamika politik awal abad ke-20. Naskah ini mengingatkan bahwa sejarah Melayu tidak hanya hadir dalam istana, prasasti, atau kitab besar, tetapi juga dalam surat-surat yang pernah bergerak dari satu kerajaan ke kerajaan lain.
Dengan membaca manuskrip semacam ini, kita sebenarnya sedang membaca kembali jaringan peradaban Melayu yang pernah menghubungkan pulau, semenanjung, kerajaan, ulama, dan masyarakat melalui bahasa Jawi dan tradisi Islam. Karena itulah, pelestarian dan penelitian manuskrip Melayu-Jawi menjadi penting, bukan hanya untuk memahami masa lalu, tetapi juga untuk membangun kembali kesadaran tentang keterhubungan sejarah masyarakat di kawasan Pesisir Selat Melaka.
