Iaitfdumai.ac.id – DUMAI — Pendidikan berbasis Khazanah Pesisir Selat Malaka sebagaimana ditegaskan dalam distingsi Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai adalah menjadi langkah tepat untuk menjadi Perguruan Tinggi Swasta Terdepan di Pesisir Selat Melaka.
Penegasan tersebut disampaikan Prof Dr Zaitun sebagai dosen visiting lecture dalam perkuliahan Program Pascasarjana IAITF Dumai pada mata kuliah Inovasi Kurikulum dan Materi Pendidikan Agama Islam, Sabtu (3/1/2026), perkuliahan berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 12.00 WIB dengan skema hybrid.

Prof Zaitun menyampaikan materi secara daring melalui zoom meeting, sementara mahasiswa pascasarjana Prodi Pendidikan Agama Islam mengikuti kegiatan secara luring di ruang seminar IAITF Dumai. Model pembelajaran ini mencerminkan upaya institusi dalam memadukan fleksibilitas teknologi dengan suasana akademik tatap muka yang dialogis.
‘’Karakter masyarakat pesisir Selat Malaka merupakan modal kultural dan pedagogis yang strategis bagi pengembangan Pendidikan Agama Islam. Bahwa inovasi kurikulum PAI harus berangkat dari realitas sosial tempat pendidikan itu tumbuh. Nilai-nilai religiusitas, adab, musyawarah, gotong royong, serta relasi harmonis dengan alam yang hidup dalam masyarakat Melayu pesisir dinilai sangat relevan untuk diintegrasikan ke dalam materi PAI agar pembelajaran tidak terlepas dari konteks kehidupan peserta didik,’’ ungkapnya.

Oleh sebab itu, Pendidikan Islam yang kontekstual tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga membentuk karakter dan identitas peserta didik secara lebih utuh. Pendekatan ini, lanjut Prof Zaitun, menjadi jawaban atas tantangan pembelajaran PAI yang selama ini masih dominan normatif dan kognitif, serta kurang menyentuh dimensi afektif dan praksis nilai.
Senada dengan itu, Dr Windayani, selaku Ketua Program Studi Pascasarjana sekaligus Wakil Rektor IAITF Dumai, menyampaikan tanggapannya terhadap perkuliahan tersebut. Ia menegaskan bahwa gagasan pendidikan pesisir Selat Malaka sejalan dengan visi kelembagaan IAITF Dumai untuk membangun keunggulan akademik berbasis lokalitas.
“IAITF Dumai memiliki posisi strategis di wilayah pesisir Selat Malaka. Karena itu, pengembangan kurikulum PAI harus mampu membaca dan merespons realitas sosial-budaya masyarakat sekitar. Kuliah hari ini menegaskan bahwa kearifan lokal bukan sekadar pelengkap, tetapi fondasi penting dalam inovasi kurikulum Pascasarjana,” ujarnya.
Dr Windayani juga menambahkan bahwa kehadiran Prof Zaitun sebagai dosen visiting lecture memberikan penguatan akademik bagi mahasiswa Pascasarjana, khususnya dalam memahami arah baru pengembangan materi PAI yang lebih kontekstual, humanis, dan relevan dengan kebijakan pendidikan nasional. Ia berharap diskursus yang dibangun dalam perkuliahan tersebut dapat menjadi rujukan bagi pengembangan riset, tesis, dan inovasi pembelajaran di lingkungan IAITF Dumai.

Melalui kegiatan ini, Pascasarjana IAITF Dumai menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan pendidikan Islam yang berakar pada kearifan lokal pesisir Selat Malaka, sekaligus adaptif terhadap dinamika global. Pendidikan pesisir tidak lagi dipandang sebagai batas geografis, melainkan sebagai distingsi akademik yang memperkuat identitas dan daya saing institusi. ***
Penulis: Nini Nursima
Editor: Dawami Bukitbatu
